SoapyNature

Sabun “Handmade” Yang Baik Buat Kulit Anda

SABUN: Riwayatmu duluuuu …(2) 18 Januari 2009

Filed under: Sejarah Sabun — halalsoapmaker @ 12:11 am

SABUN: Pasca zaman pertengahan sampai abad ke 20

Itali, Spanyol dan Perancis merupakan pusat pembuatan sabun yang paling awal, karena tersedianya bahan baku yang mudah diperoleh berupa minyak zaitun dari pohon zaitun.  Marseilles di Perancis lah yang menjadi pusat pertama disusul Genoa, lalu Venesia.  Meskipun ada beberapa pembuat sabun di Jerman, benda ini jarang sekali digunakan di Eropa Tengah, sehingga sekotak sabun yang dipersembahkan kepada Duchess of Juelich pada tahun 1549 menimbulkan sensasi besar.  Pada tahun 1672 seorang Jerman A. Leo mengirim bingkisan hadiah berisi sabun kepada Lady von Schleinitz, yang didalamnya disertai uraian penjelasan rinci tentang cara memakai benda misterius tersebut.

Sabun Castile, seluruhnya dibuat dari minyak zaitun, dibuat di Kerajaan Castilia (sekarang bagian dari Spanyol) kira-kira tahun 1616.  Abu alkali yang disebut barilla dari pohon semak  Salsolas, direbus bersama minyak zaitun sebagai pengganti lemak binatang.  Dengan menambahkan larutan pekat garam kedalamnya, sabunnya akan naik ke permukaan dan diambil, meninggalkan sisa soda api dan pencemar lain di dasar. Ini mungkin merupakan produk sabun keras pertama, yang semakin tua akan makin mengeras, tanpa berubah warna putihnya dan disebut jabon de Castila, yang menjadi sebuah nama generik.

Orang Inggris baru membuat sabun dalam abad ke 12  di Bristol.  Catatan pada Bristol Company of Soapmakers untuk tahun 1562-1642 menunjukkan nama 180 orang yang terlibat dalam bisnis sabun.  Disebutkan pula jenis sabun bernama “Bristol Soap” yang berwarna hitam dan juga “Bristol Grey Soap” yang lebih keras, berwarna abu-abu yang diproduksi masal untuk dikirim ke London tahun 1523 dengan harga satu penny per pound (1/2 kg). Bisnis sabun begitu bagus; pada tahun 1622 Raja James memberikan hak monopoli kepada seorang pembuat sabun dengan membayar imbalan $100,000 setahun.

Di Perancis, selama Raja Louis XIV (1638-1715)  berkuasa, mandi merupakan keanehan, bukan kebiasaan. Diceritakan bahwa Raja Louis menghukum mati dengan pisau guillotin 3 pembuat sabun, karena sabun yang mereka produksi menimbulkan iritasi pada kulit sang Raja yang sensitif.  Di dorong rasa takut dan putus asa, 4 orang pembuat sabun lainnya berembug dan menciptakan cara untuk mencetak dan mematangkan sabun – perlu satu bulan untuk membuat satu batang sabun saja.  Mereka pun berhasil menyelamatkan leher mereka dari pisau guillotin, dan dunia juga memperoleh cara membuat sabun handmade. (sabun tuang, sabun proses dingin, sabun pedesaan, sabun yang telah dimatangkan/cured).

Tulisan yang dikenal sebagai karya ilmuwan Arab, Jabir bin Hayyan berulangkai menyebut sabun sebagai zat pembersih.   Orang Arab membuat sabun dari minyak nabati atau minyak atsiri, misalnya minyak thymus.  Soda api (Al-Soda Al-Kawia) NaOH pun dipakai untuk pertama kalinya dan rumusnya tidak pernah berubah seperti sabun yang sekarang beredar di pasaran.  Sejak awal abad ke 7 sabun diproduksi di Nablus (Palestina), Kufa (Irak) dan Basara (Irak).  Sabun Arab diberi pewangi dan pewarna, ada yang padat keras, ada yang cair.  Mereka juga mempunyai sabun khusus untuk bercukur. Sabun diperdagangkan seharga 3 Dirhams (0,3 Dinar) per batang di tahun 981 M.

Pembuatan sabun di koloni Amerika pada awal abad ke 17 diawali dengan datangnya para pembuat sabun di atas kapal kedua dari Inggris yang berlabuh di Jamestown, Virginia.  Selama bertahun-tahun pembuatan sabun merupakan kegiatan rumahtangga belaka.  Lalu para pembuat sabun profesional mulai menampung sisa lemak rumahtangga yang mereka tukar dengan sabun.

Nicolas Leblanc seorang ahli kimia Perancis menemukan cara pembuatan soda api dari garam, yang lebih mudah dan cepat dan murah yang disebut proses Leblanc pada tahun 1852.  Namun cara ini menjadi usang dengan diketemukannya proses Solvay atau proses amonia oleh orang Belgia bernama Ernest Solvay, yang juga menggunakan garam dapur.  Proses Solvay mengurangi biaya pembuatan alkali serta meningkatkan volume dan mutu hasil soda yang dapat dipakai para pembuat sabun.

Berbagai penemuan ilmiah ini, disertai dengan diketemukannya tenaga listrik untuk mengoperasikan pabrik, membuat industri sabun sebagai industri paling pesat di tahun 1850an.  Kemudahan memperoleh sabun juga mengubahnya dari barang mewah menjadi barang keperluan sehari-hari.  Dengan meluasnya penggunaan sabun dikembangkan pula sabun yang lebih lunak untuk mandi dan juga sabun untuk mesin pencuci yang dapat diperoleh konsumen pada pergantian abad itu.

Dalam abad ke 19, sabun dikenai pajak tinggi sebagai barang mewah di beberapa negara. Ketika pajak yang tinggi dihilangkan, sabun pun menjadi terjangkau oleh rakyat biasa, dan standar kebersihan pun meningkat.  Inggris dan Perancis menghilangkan pajak sabun pada tahun 1852 sehingga sabun menjadi komoditas rumahtangga untuk kebersihan diri dan dan mencuci.

Kimiawi pembuatan sabun pada dasarnya tetap tak berubah sampai tahun 1916 ketika deterjen sintetik yang pertama dibuat di Jerman sebagai imbas akibat Perang Dunia 1 di mana lemak sulit diperoleh untuk membuat sabun.  Deterjen adalah zat pembersih bukan-sabun yang dibuat secara sintetis dari berbagai bahan.  Penemuan deterjen juga didorong oleh kebutuhan akan suatu zat pembersih yang, tidak seperti sabun, tidak akan bersenyawa dengan garam mineral di dalam air dan membentuk substansi yang tidak larut dalam air.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s