SoapyNature

Sabun “Handmade” Yang Baik Buat Kulit Anda

Cara Membuat Sabun 23 Mei 2009

Filed under: Teknik Bikin Sabun — halalsoapmaker @ 5:15 am

Berbagai macam proses pembuatan sabun:
Saya yakin bahwa di antara anda semua ada yang pernah pada suatu ketika – mungkin waktu masih duduk di bangku sekolah menengah atau bahkan waktu masih di sekolah dasar – memperoleh pelajaran prakarya tentang bagaimana caranya membuat sabun. Atau barangkali sebagian dari anda yang senang kutak-katik mencari tambahan ketrampilan pernah membaca buku tentang hal yang sama.  Semoga saja masih ingat.

Tetapi saya rasa yang anda pelajari hanya satu macam cara atau proses saja bagi pembuatan sabun ini, yaitu yang disebut sebagai proses dingin” alias tidak menggunakan bantuan panas tambahan dari luar. Sebenarnya ada juga yang memakai “proses panas” yang memanfaatkan tambahan panas dari luar alias direbus atau juga bisa memakai oven.   Satu proses lain lagi adalah yang paling mudah dan aman, tetapi sebenarnya tidak bisa dikatakan “membuat” sabun melainkan hanya memberi sentuhan akhir saja pada pembuatan sabun.   Proses ini disebut melt and pour” atau “lelehkan dan tuangkan” karena caranya hanya melelehkan sabun dasaran (belum pakai warna dan pewangi dan tidak berbentuk serta hanya bahan dasar saja yang dipakai), menambahkan warna dan pewangi serta bahan lain untuk meningkatkan mutunya, lalu menuangkannya ke cetakan sabun yang kita kehendaki.  Nah, di sini kita hanya akan membicarakan “proses dingin” saja karena inilah sebenarnya pembuatan sabun yang aseli warisan nenek moyang kita.

Bagi yang pernah belajar dan masih ingat, pasti akan sepakat dengan saya bahwa sebenarnya membuat sabun itu mudah sekali atau yang lebih tepat, sederhana sekali. Bagaimana tidak sederhana;  kita hanya perlu mencampurkan TIGA bahan utama pembuat sabun, yaitu: minyak atau lemak, soda api (NaOH) untuk sabun padat atau KOH untuk sabun cair, dan air atau cairan lain pengganti air.  Sesederhana itukah? Benar sekali, ya memang sesederhana itu! Hanya saja cara mencampurkan ketiga bahan itulah yang mungkin membuatnya sedikit agak rumit. Apakah air dicampur dulu dengan minyak lalu ditambah soda, atau minyak dengan soda dahulu atau bagaimana? Yang lebih rumit lagi, seperti apa sebaiknya perbandingan volume atau berat masing-masing bahan agar tercipta sabun berkualitas atau sabun yang kita idam-idamkan. Itu semua akan kita bahas sebentar nanti.

Sebelum kita bahas cara mencampur ketiga bahan tersebut sebaiknya kita ulas dulu masing-masing bahan tersebut.
Minyak/Lemak.
Minyak apa saja yang bisa kita pakai? Yang terang bukan sebangsa minyak tanah atau bensin

dan sejenisnya, tetapi minyak atau lemak yang berasal dari tumbuhan (minyak nabati) maupun dari binatang (lemak hewani). Pada awalnya lemak binatang lebih banyak dipakai daripada minyak nabati, namun sekarang sebagian besar yang dipakai adalah minyak nabati, meskipun masih banyak sabun yang memakai lemak hewan. Di sinilah letak kerawanan sabun bagi umat Islam, karena banyak sabun (terutama yang diimpor dari luar negeri) yang juga memakai lemak hewan yang berasal dari babi (dalam bahasa Inggris biasanya ditulis sebagai “lard” sedangkan lemak sapi disebut “tallow”) atau hewan lain yang disembelih tanpa ucapan “bismillah” alias bangkai dalam pengertian hukum Islam.  Lemak hewan menghasilkan sabun yang lebih keras, sedangkan minyak nabati menghasilkan sabun yang lebih lunak.  Salah satu minyak nabati yang bisa menghasilkan sabun yang keras adalah minyak kelapa.  Loh, kok minyak kelapa?! Emangnya sabun dibuat dari minyak kelapa yang dipakai menggoreng kerupuk dan tempe? (Sekarang kebanyakan pakai minyak goreng dari kelapa sawit).  Iya, benar! Demikian juga minyak sawit alias minyak goreng ! Bahkan ada pembuat sabun yang mendaur-ulang minyak jelantah alias minyak bekas menggoreng, sebagai bahan pembuat sabun (sesudah dibersihkan/disaring tentunya dan sabunnya juga hanya untuk mencuci piring atau pakaian saja seharusnya)! Bayangkan saja kalau minyak jelantah penggoreng ikan yang dipakai, sabunnya kita pakai untuk wajah!

Memang semua pabrik atau pembuat sabun tidak memakai nama awam bagi bahan yang sabun yang dipakainya. Mereka pilih memakai nama Latin seperti cocus nucifera alias kelapa atau oleum cocos untuk minyak kelapa; oleum elaeis alias minyak sawit atau minyak goreng; oleum Maydis alias minyak jagung dan sebagainya. Mungkin supaya kedengaran keren atau tidak ketahuan bahwa semuanya adalah bahan yang ada di dalam rumah atau dapur kita.

Minyak yang paling umum dipakai adalah minyak sawit. Murah (di Indonesia, tetapi tidak di Barat sono). Minyak kelapa kan mahal sekarang, kira-kira 2 X harga minyak sawit – apalagi kalau minyak sawit yang dipakai adalah minyak goreng curah. Untuk sabun yang lebih eksklusif dan berkelas orang memakai tambahan minyak zaitun (lih.gambar), minyak kedelai, minyak canola, bunga matahari, cocoa butter (mentega cacao) – semuanya barang impor; ada juga yang namanya shea butter yang bahannya berasal dari Afrika, sangat bagus untuk sabun. Bahkan apa yang banyak dikenal para pembuat kue sebagai mentega putih atau vegetable shortening yang membuat kue renyah, dipakai juga sebagai campuran bahan sabun.  Ada lagi minyak yang disebut RBO alias Rice Bran Oil atau nama Indonesianya Minyak Dedak karena dibuat dari dedak yang dihasilkan waktu menggiling padi.  Meskipun bahannya tersedia dalam jumlah jutaan ton, di Indonesia kelihatannya belum ada yang membuat RBO – yang kita temukan di super market masih barang impor dari Thailand. RBO ini sangat bagus untuk membuat sabun karena kandungan vitamin E nya sangat tinggi.
Soda-api atau soda kostik (Soda Natrium – NaOH)
Ini merupakan zat yang bersifat basa atau alkali, yang dibuat dari abu pembakaran kayu (paling baik dari kayu keras). Soda-api adalah basa yang kuat dan akan “membakar” kulit bila kristal

/serbuk atau larutannya tersentuh oleh kulit kita. Pakaian pun bila terpercik olehnya akan bolong jadinya, sama dengan kalau terkena asam sulfat (asam pengisi aki mobil/motor). Kalau saluran air (wastafel atau bak cuci piring) anda kebetulan tersumbat, soda-api bisa menjadi solusinya. Itulah makanya soda-api selalu tersedia di toko bahan bangunan. Namun, jangan khawatir dulu, mengapa bahan yang begitu berbahaya kok ternyata menjadi bahan utama pembuatan sabun yang anda pakai di kulit termasuk wajah anda. Di kalangan pembuat sabun ada ungkapan bahwa: “bukan sabun kalau tidak memakai soda-api” (ungkapan ini ada karena sekarang banyak bahan pembersih -termasuk untuk kulit manusia- yang memanfaatkan deterjen sintetis – yang sebenarnya tidak ramah kulit – yang dibuat tanpa bantuan soda-api). Bahkan sabun cair pun harus dibuat memakai “soda-api” juga meskipun berbeda jenisnya, yaitu soda kalium atau KOH. Akan kita lihat nanti apa yang diperankan oleh zat berbahaya ini dalam pembuatan sabun.

Air tidak usah kita bahas terlalu panjang karena fungsinya hanya sebagai pelarut soda-api meskipun volume air yang dipakai juga harus ditakar sedemikian rupa, karena banyaknya air yang dipakai akan sangat mempengaruhi konsistensi atau kepadatan/kekerasan sabun yang dihasilkan. Asal tahu saja bahwa dalam hal SoapyNature, kira-kira separuh dari air yang dibutuhkan diganti dengan SUSU (susu sapi atau susu kambing untuk sabun jenis tertentu).
Saponifikasi atau penyabunan: Nah, kini tiba saatnya kita bicarakan tentang proses terjadinya sabun. Saponifikasi (bukan dari kata “sapo” yang dijual di restoran, tetapi dari kata “savon” yang artinya sabun) adalah proses bereaksinya lemak atau minyak dengan alkali (soda-api) di mana sifat “keras” soda-api akan dijinakkan menjadi netral oleh lemak dan sebaliknya triglycerida yang terkandung dalam minyak/lemak diubah menjadi garam asam lemak dan glycerol atau glycerin. Dalam hal ini jumlah minyak/lemak yang tersedia harus cukup untuk menetralkan semua alkali yang dipakai – kalau tidak maka sabun akan bersifat “keras” dan bisa merusak kulit. Kita mengenal istilah angka saponifikasi yang menunjukkan porsi alkali yang diperlukan untuk mengubah minyak menjadi sabun. Angka saponifikasi masing-masing jenis minyak berbeda karena kandungan asam lemak mereka juga berbeda. Angka saponifikasi inilah yang “harus diketahui” oleh semua pembuat sabun – ada tabelnya untuk banyak macam minyak. Tetapi ada juga program komputer untuk menghitung banyaknya soda-api yang harus dipakai untuk campuran berbagai macam minyak dengan takaran yang berbagai macam pula. Kita bisa mengatur campuran berbagai macam minyak sedemikian rupa agar sabun lebih keras, atau lebih melembabkan, lebih banyak buih “bubble” (gelembung-gelembung) atau buih krimnya.

pH Sabun
pH adalah istilah kimia yang menunjukkan tingkat keasaman, kebasaan atau kenetralan suatu zat. Angkanya berkisar dari nol  s/d 14 – dengan sifat/keadaan netral berada di angka 7. Makin rendah angkanya (di bawah 7), maka sifat zat itu makin asam sedangkan makin tinggi (diatas 7) berarti makin kuat sifat basanya. Untuk sabun, pH 7 adalah yang paling bagus karena netral, namun sangat jarang sabun (bahkan sabun komersial) yang pH-nya 7 alias netral.  pH 10 dikatakan masih bisa diterima untuk sabun (bahkan sabun komersialpun ada yang pH-nya 10). Namanya tak usahlah dtulis di sini – ntar saya bisa dikenai pasal yang dikenakan pada mbak Prita. Untuk sabun “handmade”, makin tua umurnya, pHnya akan makin turun.  SoapyNature yang baru keluar dari cetakan pH-nya juga 10, tetapi yang sudah beberapa bulan, ada yang turun sampai 8. pH bisa diukur memakai kertas lakmus atau bisa juga yang lebih akurat dengan pH meter

Mengapa membuat sabun sendiri atau mengapa sabun buatan tangan?
Sebelum kita melanjutkan bicara tentang proses membuat sabun, saya yakin pertanyaan ini perlu dijawab. Di atas disebutkan bahwa saponifikasi juga menghasilkan glycerin. Ini adalah zat cair yang bersifat hidroskopis alias menyerap/mengikat uap air dari udara dan karena itu mampu membuat kulit menjadi lebih lembab, tidak kering. Nah, di pabrik sabun komersial glycerin ini dipisahkan untuk dijual terpisah – tetapi pembuat sabun handmade tidak melakukan hal ini sehingga sabun handmade mengandung glycerin alami. Ada juga sabun pabrik yang ditambahi glycerin secara khusus, tetapi bagi umat Islam disini pula letak kerawanannya. Glycerin dapat dibuat juga dari lemak hewan dan kehalalan lemak tersebut bisa menjadi pertanyaan besar. Membuat sendiri sabun kita juga memberi kita kebebasan menentukan, sabun seperti apa yang kita ingin pakai, meskipun harganya mungkin bisa jatuh lebih mahal daripada sabun pabrik/komersial pada umumnya.

Membuat larutan soda-api
Untuk membuat terjadinya reaksi saponifikasi, soda-api harus dilarutkan terlebih dahulu. Jadi yang harus dicampur pertama kali adalah soda-api dengan air. Seberapa banyak air atau cairan yang harus digunakan untuk melarutkan soda-api yang akan kita pakai? Ada rumus yang menganjurkan perbandingan berat (bukan volume) air dengan minyak yang dipakai sebesar 38%. Ada juga anjuran agar porsi soda-api dalam larutan kurang dari 40% agar sabun yang dihasilkan tidak mengandung sisa soda-api (alias pH-nya mendekati netral). Yang jelas, ada larangan dalam membuat larutan soda-api, yaitu: jangan membuat larutan soda-api dalam bejana aluminum dan jangan menuangkan air kedalam bubuk/ kristal soda-api. Aluminum akan bereaksi dan termakan oleh larutan soda-api, dan akan terjadi

gejolak/letupan bila soda-api dituangi air – jadi harus sebaliknya: soda-api dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam air (harus air dingin – bahkan kalau bisa pakai es lebih baik/aman) sambil diaduk. Sesudah soda-api terlarut dalam air, larutan akan menjadi panas (sangat panas). Jangan sampai terpercik ke luar dan mengenai kulit atau pakaian kita (pakailah sarung tangan, baju lengan panjang dan gogle pelindung mata). Larutan soda-api yang panas ini harus dibiarkan dulu di tempat aman sampai menjadi dingin sebelum dicampur dengan minyak (agar cepat dingin rendam bejananya dalam bak air yang mengalir).
Superfatting
Istilah ini kalau di-Indonesiakan artinya adalah “melebihkan minyak”. Istilah ini mendasarkan diri pada minyak/lemaknya sedangkan kalau dilihat dari segi soda-api (lye) nya, istilahnya disebut “lye discount” alias “pengurangan soda-api”. Secara sederhana maksudnya adalah, tidak semua minyak yang dipakai akan diikat atau diubah oleh soda-api menjadi garam asam lemak – berarti masih ada minyak yang tersisa yang terkandung dalam sabun. Pada umumnya sabun handmade (begitu pula halnya dengan SoapyNature) memanfaatkan opsi ini dengan 5% superfatting alias, sebanyak 5% minyak yang dipakai tetap ada di dalam sabun untuk melembabkan kulit, apalagi kalau dalam campurannya terdapat minyak zaitun yang berkhasiat bagus untuk kulit!  Superfatting juga membantu agar pH sabun nanti lebih mendekati netral karena alkali-nya akan bereaksi semua dengan minyak

Menyiapkan campuran minyak

Ada banyak resep yang bisa kita pakai dengan segala macam campuran minyak yang bisa kita peroleh atau bila anda cukup kreatif bisa saja bereksperimen sendiri dengan berbagai campuran minyak. Semua resep yang ada biasanya sudah menunjukkan pula berapa soda-api yang diperlukan. Satu hal penting untuk diperhatikan adalah bahwa semua resep berdasarkan berat (bukan dalam volume) apapun juga satuan beratnya sehingga diperlukan timbangan yang akurat, sebaiknya timbangan digital. Yang penting dan harus diperhatikan dalam meracik campuran minyak adalah sifat masing-masing minyak itu sendiri yang dipengaruhi oleh jenis asam lemak yang dikandungnya. Minyak kelapa misalnya, mempunyai kandungan asam laurat yang tinggi (hampir 50%) sehingga pengaruhnya pada sabun adalah lebih keras konsistensinya, lebih kuat daya penghilang lemaknya (membersihkan dengan lebih baik), dan lebih banyak busa gelembung (bubble)nya. Karena lebih menghilangkan lemak di kulit, maka terlalu banyak minyak kelapa dalam racikan/resep sabun akan menyebabkan sabun yang dihasilkan bisa membuat kulit cenderung kering. Lain dengan minyak zaitun yang sangat tinggi kandungan asam oleatnya sehingga satu-satunya kelebihan penting sekali yang dimiliki minyak zaitun adalah sifat “conditioning”, melembabkan dan melembutkan kulit. Begitu juga dengan RBO alias Minyak Dedak.

Mencampurkan Larutan Soda-api dengan Campuran Minyak

Ini tidak boleh dilakukan pada saat salah satu dari keduanya masih panas suhunya – jadi

suhunya harus kira-kira sama dengan suhu ruangan kita. Caranya, kita tuangkan pelahan-lahan larutan soda-api ke dalam minyak, sambil diaduk pelahan-lahan. Bila semua sudah tertuang, harus diaduk terus (gerakkan pengaduk membuat angka 8) sampai tercapai keadaan yang dinamakan “trace” (bila pengaduk digoreskan ke permukaan adonan akan meninggalkan bekas goresan atau ketika pengaduk diangkat ada adonan yang ikut menempel dan mengucur seperti tali dari ujungnya) atau dengan kata lain menjadi kental, tetapi tidak terlalu kental. Kalau mau, dan bahkan lebih baik, pengadukan bisa dilakukan dengan “stick blender” atau “mixer” yang biasa dipakai membuat adonan kue – gunakan kecepatan rendah atau sedang saja.  Kalau dengan “stick blender” trace bisa terjadi sangat cepat.  Pengadukan bisa memerlukan waktu sampai 20-30 menit sebelum “trace” tercapai. Pada saat awal tercapainya “trace” merupakan saat tepat untuk menambahkan pewarna ataupun pewangi bila diinginkan.
Mengimbuhkan warna dan aroma
Ini sangat tergantung selera. Saya pakai istilah aroma dan bukan pewangi karena ada yang suka aroma yang tidak wangi tetapi sedap seperti berbagai rempah-rempah, misalnya kayumanis. Yang perlu diketahui tentang aroma adalah ada pewangi alami (termasuk rempah-rempah, minyak atsiri -cengkeh, pala, bunga mawar, melati, dsb) dan aroma sintetis/buatan yang bisa meniru/memalsukan segala macam aroma. Yang baik tentu saja yang alami meskipun banyak orang lebih tertarik pada bau/aroma yang wangi tanpa peduli apakah bahannya sintetis atau alami. Padahal kata para ahli, pewangi sintetis bisa berpengaruh pada kesehatan kulit (alergi) sedangkan yang alami lebih jarang menimbulkan alergi. Bisa dipastikan semua sabun pabrik yang wanginya kuat menyengat bahan pewanginya sintetis, karena minyak atsiri yang dipakai sebagai pewangi harganya sangat mahal dan aromanya cenderung lembut.  Kita juga harus berhati-hati kalau memakai pewangi sintetis (umumnya disebut sebagai FO atau fragrant oil) karena ada jenis tertentu yang cenderung membuat adonan sabun cepat sekali mengental!  Saya pernah mengalaminya juga dan ini bisa sangat merepotkan kalau cetakan sabun yang kita pakai menuntut adonan sabun tidak terlalu kental (misalnya cetakan dari pipa PVC).

Tentang pewarna, agak lebih sulit karena pewarna yang diperdagangkan dan harganya terjangkau lebih banyak berbasis air sedangkan untuk sabun, yang baik adalah yang berbasis minyak (kan bahan sabunnya dari minyak). Bisa juga memakai pewarna alami seperti kunyit, kayumanis, indigo/nila, atau yang dibuat dari alam adalah senyawa oxide (titanium dioxide, iron oxide), aquamarine, bentonit dsb. Bentonit malah juga bisa berfungsi sebagai exfolian (scrub). Serbuk habatussauda memberi warna hitam sekaligus sebagai exfoliant, demikian juga dengan serbuk kayumanis (warna cokelat tua).

Mencetak sabun
Bila “trace” telah tercapai dan warna serta pewangi telah dicampurkan, tibalah saatnya sabun kita cetak. Anda bisa menggunakan apa saja sebagai cetakan asal bahannya bukan aluminum. Sebelum dituangi adonan cetakannya diolesi dulu dengan lemak/minyak atau vaselin agar tidak lengket. Bisa juga dialasi dengan kain basah (diperas) atau kertas berlapis platik (yang biasa dipakai membungkus makanan olahan termasuk nasi. Pipa pvc dapat juga dipakai sebagai cetakan yang praktis meskipun terkadang kalau sabun sudah keras bisa sulit keluar dari cetakan (bila terjadi masukkan dulu semua ke dalam freezer selama 10-20 menit – sabun akan mudah keluar dari pipa).

Sesudah semua dituang/dicetak, meraka harus ditutup dengan kertas tissue (towel paper), lalu diselimuti berlapis-lapis (agar panas yang terjadi tidak hilang ke luar) antara 8 – 24 jam baru bisa dikeluarkan dari cetakan. Dalam 2-3 jam sesudah dituang ke cetakan dan diselimuti rapat, adonan sabun akan menjadi sangat panas meskipun masih bisa dipegang wadahnya. Pada saat itu adonan sabun mengalami fase jel (berubah menjadi jel). Bahkan sesudah lebih dari 12 jam pun, asal selimutnya belum dibuka, masih akan tetap panas. Namun ada pembuat sabun, termasuk saya yang kadang tidak suka dengan fase jel ini (karena membuat warna sabun jadi sangat lebih tua) sehingga sesudah dituang di cetakan tidak diselimuti.

Terserah pada anda bagaimana anda mau memotong sabunnya bila sudah keluar dari cetakan. Yang perlu diperhatikan adalah, sabun perlu waktu untuk curing” atau menjadi matang antara 2- 6 minggu (pada prakteknya saya biasa memakai sabun yang saya bikin dengan aman sesudah satu minggu) dengan ditaruh di tempat terbuka dan berangin.

Selamat mencoba bagi yang berminat – kalau perlu silahkan bertanya ke soapynature@gmail.com
 

KHASIAT BERBAGAI BAHAN ISIAN SABUN 26 Maret 2009

Filed under: SoapyNature — halalsoapmaker @ 4:36 am

Susu

Susu mengandung asam beta hydroxy alami yang tidak saja berfungsi sebagai peeling yang mengikis kotoran dan mengelupas kulit mati, tetapi juga memperhalus lapisan di bawahnya. Susu membuat kulit menjadi halus, bersinar dan tidak bersisik. Selain itu, kandungan protein dalam susu juga berguna sebagai suplai nutrisi yang berfungsi melembabkan sekaligus melapisi permukaan kulit agar lebih halus dan kenyal. (berbagai sumber)


TEH HIJAU

Teh hijau merupakan antiseptik alami yang meredakan peradangan, bengkak dan gatal pada kulit. Termasuk juga luka karena terbakar matahari dan sebagainya. Teh hijau juga dapat digunakan untuk mengempiskan jerawat, kulit terbakar bahkan kelopak mata yang membengkak. Pada uji lab, teh hijau mampu melindungi kulit dari bahaya sinar UV yang memicu munculnya kanker kulit, baik dengan cara meminumnya atau mengoleskannya langsung pada kulit.

Selain diseduh dan diminum langsung, manfaat teh juga bisa kita rasakan jika kita mandi menggunakan ramuan teh hijau, khususnya untuk mengobati peradangan akibat penyakit kulit. Dalam sebuah studi yang dilakukan peneliti dari fakultas kedokteran Universitas Georgia dan dipublikasikan dalam jurnal Experimental Dermatology, disimpulkan bahwa teh hijau efektif mengobati peradangan akibat penyakit kulit seperti psoriasis, bahkan lesi kulit yang berkaitan dengan penyakit lupus. (berbagai sumber)

MADU

Sejak dahulu madu telah digunakan sebagai bahan dasar perawatan kulit. Selain teksturnya yang lembut, kandungan madu sangat kaya akan vitamin, mineral, antioksidan dan potasium yang dapat digunakan sebagai pelembab, penyegar bahkan masker wajah. Selain itu madu juga mengandung antibiotika sebagai antibakteri dan antiseptik menjaga luka. Madu merupakan humectant yang berarti memiliki kemampuan untuk menarik dan mengikat kelembaban.

Zat alami yang terkandung dalam madu membantu tubuh menjalankan fungsinya dalam melembabkan kulit. Lebih dari itu, madu alami cocok untuk segala jenis kulit, bahkan bagi kulit yang sangat sensitif sekalipun. Sebuah penelitian terbaru menyebutkan efektivitas madu sebagai antimicrobial agent, yang berfungsi mencegah pertumbuhan bakteri. Kandungan antimicrobial dalam madu membuatnya bermanfaat dalam perawatan jerawat ringan. (berbagai sumber)

WORTEL

Wortel dapat digunakan untuk menghaluskan kulit. Kandungan Beta carotene dalam buah ini juga merupakan anti oksidan yang dapat membantu memperlambat proses penuaan. Wortel dapat dimanfaatkan untuk facial terutama bila kulit anda normal cenderung berminyak. Kandungan vitamin A dan C-nya yang tinggi sangat baik untuk kulit wajah. (berbagai sumber)

LIDAH BUAYA

Gel lidah buaya seringkali digunakan untuk mengobati luka gores, tersayat, gigitan serangga dan ruam. Lidah buaya diduga juga jadi bahan rahasia kecantikan Cleopatra. Jika Anda bermasalah dengan jerawat atau memiliki kulit berminyak, lidah buaya bisa jadi pilihan bagus untuk perawatan wajah. Ph pada lidah buaya mengembalikan keseimbangan kulit sekaligus membersihkan kulit yang bernoda. Lidah buaya juga melembabkan kulit.

Zat lignin yang dikandungnya diyakini dapat menembus sekaligus meresap ke dalam kulit serta menahan hilangnya cairan dari permukaan kulit. Dengan demikian kulit jadi tidak cepat kering sementara kelembapannya tetap terjaga. Kandungan enzim cellulose, amylose, protein dan biogenik simulator merupakan zat aktif dapat membantu metabolisme dan merangsang pertumbuhan dan regenerasi se-sel kulit. (berbagai sumber)

PAPAYA

Buah pepaya mengandung getah berwarna putih yang mengandung enzim pemecah protein yang populer dengan sebutan papain. Papain bisa melarutkan sel-sel mati yang melekat pada kulit dan sukar terlepas secara fisik. Noda dan flek di wajah bisa dikikis oleh papain hingga menjadi mulus dan bersih. Papain pun mengandung 1,2% sulfur yang berfungsi mengobati penyakit kulit seperti jerawat, kutil, dan bekas luka. Lebih dari 50 asam amino terkandung dalam getah pepaya bersatu padu menjadi bahan baku industri kosmetik untuk menghaluskan kulit dan menguatkan jaringan agar lebih kenyal. (berbagai sumber

KUNYIT

Kunyit bermanfaat sebagai antioksidan, antiseptik, antibakteri, antijamur dan antialergi. Kunyit dapat menghilangkan gatal-gatal di kulit, serta berfungsi sebagai stimulan hingga peredaran darah lancar. Untuk pemakaian pada kulit, secara tradisional kunyit banyak dipakai untuk infeksi kulit. (berbagai sumber)


LABU KUNING

Labu kuning sangat cocok untuk eksema (eksim). Labu kuning berkhasiat melindungi dan menyejukkan luka, kulit kasar dan mencegah kulit bersisik. Labu kuning kaya akan komponen alami seperti vitamin A dan C, B, betakaroten anti-oksidan dan banyak lagi. Labu juga mengandung enzim dan asam salicylic, asam lactic dan asam ascorbic, yang secara lembut mengelupas bagian kulit yang bersisik. Labu kuning mengurangi oksidasi dan efek radikal bebas di kulit, memberikan nutrisi ke kulit dan merangsang penyembuhan, membuat kulit bersinar dan terlihat sehat. (berbagai sumber)


 

Rahasia di balik mutu sabun yang baik: seberapakah mutu SoapyNature? 8 Februari 2009

Filed under: SoapyNature — halalsoapmaker @ 9:04 am

  1. Apa saja yang mempengaruhi mutu sabun?

Enak atau tidaknya sebuah hidangan sangat tergantung pada bahan yang kita masak tentunya.  Makan nasi yang pulen dari beras pilihan dengan lauk yang lengkap bagi sebagian besar orang Indonesia jelas lebih lezat daripada makan bulgur atau nasi jagung dengan lauk sekedarnya.  Bahan pembuat lauk pun dan cara memasaknya juga akan mempengaruhi kelezatan makanan kita.  Untuk sabun, setali tiga uang; bahan yang diracik untuk membuat sabun dan cara mengolahnya sangat mempengaruhi mutu sabun dalam arti enak, aman dipakai dan memenuhi tujuan si pemakai tentunya.

Lha apa saja bahan pembuat sabun?

Bahan dasarnya adalah minyak atau lemak, bisa hewani ataupun nabati dan ada yang campuran.  Tentang minyak, terutama yang nabati, ada sabun yang hanya memakai satu macam minyak saja, ada juga yang memakai sampai belasan macam minyak.  Nah, jenis minyak yang dipakai serta racikan atau resepnya, perbandingan takaran masing-masing minyak sangat berpengaruh pada mutu sabun yang dihasilkan.

Saponifikasi

Agar menjadi sabun, minyak harus diolah melalui sebuah proses yang disebut saponifikasi, yakni bereaksinya asam lemak dengan basa atau alkali, dalam hal ini adalah NaOH (di pasaran disebut soda api) untuk sabun padat, atau KOH untuk membuat sabun cair.  Masing-masing jenis minyak mempunyai angka saponifikasi yang berbeda satu sama lain.  Angka saponifikasi menunjukkan seberapa banyak soda yang diperlukan agar minyak tersebut berubah menjadi sabun.  Berarti, makin banyak jenis minyak yang dipakai agak makin rumit hitungannya.

Super-fatting

Bila soda yang dipakai terlalu banyak, sabun akan menjadi “keras” dalam arti bisa berbahaya bagi kulit karena bersifat terlalu basa/alkali.  Minimal kulit akan kering dan bisa terasa gatal-gatal.  Bila jumlah soda yang dipakai kurang, akan ada minyak yang tidak tersaponifikasi, artinya sabunnya mengandung minyak.  Sampai batas tertentu ini bagus dan banyak pembuat sabun yang dengan sengaja membuatnya demikian karena minyak membuat kulit menjadi lembab.  Istilah persabunannya adalah “super-fatting” dan biasanya “super-fatting” antara 5% sampai 8% malah dianjurkan.

Peranan jenis minyak dalam mempengaruhi mutu sabun

Minyak atau lemak mengandung berbagai macam asam lemak yang satu sama lain berbeda.  Ada sederet nama asam lemak yang terkandung dalam minyak/ lemak bahan sabun: asam oleat, palmitat, ricinoleat, laurat, linoleat, linolenat, stearat dan myristat adalah yang paling penting.   Satu minyak bisa mengandung satu atau beberapa asam lemak ini.

Nah, masing-masing asam lemak ini pun punya khasiat sendiri terhadap sabun, yaitu dari segi keras/lembeknya sabun, daya bersihnya (kemampuannya mengikat lemak di kulit),  daya pelembabnya, dan kemampuan menghasilkan busa.  Ada dua macam busa yang bisa dihasilkan: busa berbuih/gelembung yang cepat hilang dan/atau busa krim yang lebih stabil, tahan lebih lama. Lihat tabel sifat asam lemak di bawah.

Kepadatan/

kekerasan

Daya bersih

Daya pelembut/ penghalus

Busa buih

Busa krim

Laurat

Ya

Ya

Ya

Myristat

Ya

Ya

Ya

Palmitat

Ya

Ya

Stearat

Ya

Ya

Ricinoleat

Ya

Ya

Ya

Oleat

Ya

Linoleat

Ya

Linolenat

Ya

Nah, sekarang kita kaji berbagai asam lemak itu; terkandung dalam minyak apa saja mereka, terutama yang dipakai membuat sabun SoapyNature.  Semuanya ada 7 macam minyak/lemak yang berbeda yang dipakai dalam pembuatan SoapyNature: minyak kelapa, minyak sawit, minyak zaitun dan mentega putih  (vegetable shortening) sebagai bahan utama, ditambah minyak castor, minyak habatussauda (hanya untuk SoapyNature habatussauda) dan asam stearat.

  • Minyak kelapa: menghasilkan sabun yang keras dengan busa gelembung banyak…. daya bersihnya sangat tinggi sehingga cenderung membuat kulit terasa kering;
  • Minyak Sawit: sabunnya juga keras dan busanya cukup bagus.
  • Minyak Zaitun: sabun yang dihasilkan cenderung empuk tetapi kemampuannya melembabkan kulit sangat tinggi.
  • Mnyak kastor: sangat melembabkan kulit dan busanya sangat banyak, tetapi sabun cenderung menjadi sangat lunak.

Jadi diperlukan perhitungan yang cukup njlimet menyangkut perbandingan ukuran atau jumlah berbagai macam minyak yang akan dipakai. Para ahli sabun telah merumuskan rentang angka bagi masing-masing sifat utama (kepadatan, daya bersih – utamanya untuk lemak, daya pelembab, banyaknya busa bui, dan banyaknya busa krim) yang harus dimiliki sabun yang baik dan SoapyNature diupayakan untuk mendekati standar yang ditetapkan tersebut, sebagaimana terlihat dalam tabel perbandingan di bawah ini.

Ini berarti, racikan sabun akan menghasilkan sabun yang memenuhi lima sarat tersebut di atas, bila hitungan angkanya masih berada di dalam rentang yang dianjurkan.  Untuk masing-masing racikan sabun, angka tersebut dapat dihitung dengan sebuah program komputer, dan hitungan yang dilakukan terhadap beberapa jenis SoapyNature menghasilkan angka rata-rata sebagai berikut:

Sifat Yang diukur Standar SoapyNature Keterangan
Kepadatan/kekerasan 36 – 50 43 – 50 Lebih banyak minyak kelapa, lebih keras.
Daya bersih 12 – 22 19 – 22 Tergantung pada kandungan minyak kelapa
Daya pelembut & pelembab 45 – 80 47 – 54 Tergantung pada kandungan olive oil. SoapyNature Zaituna50 paling tinggi.
Busa buih 14 – 33 23 – 25 Lebih banyak kalau banyak minyak kelapa
Busa krim 16 – 35 24 -34 Banyak dipengaruhi oleh minyak sawit

Semua jenis SoapyNature memang diracik sedemikian rupa agar hasil sabunnya berada dalam rentang yang dianjurkan, mendekati angka yang maksimal yang masih mungkin dicapai.  SoapyNature Zaituna 50-Susu-Madu terbukti daya pelembabnya paling tinggi.  Itulah sebabnya SoapyNature Zaituna50 Susu-Madu paling baik untuk kulit yang kering. Perlu juga dicatat bahwa bahwa dalam hal SoapyNature, tingkat mutu yang terpapar di atas, hanya berdasarkan racikan berbagai minyak yang dipakai saja, sehingga masih harus ditambah dengan adanya bahan “isian” yang masing-masing punya khasiat sendiri, di samping sebagian besar punya khasiat sebagai anti-oksidan.  (lihat juga artikel terpisah tentang Zaituna50 Susu/Madu dan artikel Khasiat Berbagai Isian Sabun).

Nah, dengan paparan yang cukup rinci ini semoga anda dapat membuat keputusan sendiri apakah akan terus memakai sabun buatan pabrik atau sabun handmade yang bahan dasarnya sesuai dengan kebutuhan kulit anda – pilhan yang berdasarkan ilmu tidak sekedar asal comot.

Selamat memilih.

 

Hello world! 20 Januari 2009

Filed under: Uncategorized — halalsoapmaker @ 11:18 pm

HalalSoapMaker membuat SoapyNature, sabun herbal handmade berbahan alami bermutu, Insya Allah halal. Pembuatan SoapyNature berawal dari hasrat memakai sabun bermutu tinggi dan halal. Umumnya sabun bermutu masih bikinan luar negeri. Bahan dasar sabun adalah minyak/lemak – jadi bisa saja lemak babi dipakai atau bahan haram/najis lain. Sabun handmade berbeda dari hasil pabrik. Proses “saponifikasi” menghasilkan glycerin, cairan yang menyerap air dari udara, membuat kulit lebih lembab. Di pabrik sabun, glycerin diambil sebagai hasil sampingan; ini tak terjadi pada sabun handmade. Sabun handmade telah menjadi trend luas di negara maju bagi penggemar sabun bermutu tinggi dan alami. SoapyNature mengandung minyak zaitun (minimal 20%) dan susu, yang ribuan tahun telah dipakai memelihara keindahan kulit perempuan, dan bahan lain yang berkhasiat bagi kulit (madu, habatussauda, lidahbuaya, wortel, papaya, tehhijau, alpukat, labukuning dll.) SoapyNature beraroma rempah, buah/bunga yang segar, alami dan lembut, nyaman dipakai, bisa membuat kulit lebih lembut, halus! Blog ini adalah media agar pembaca bisa membuat informed choice alias pilihan berdasar ilmu, dalam memilih sabun yang baik.

 

SABUN: Riwayatmu duluuuu …(2) 18 Januari 2009

Filed under: Sejarah Sabun — halalsoapmaker @ 12:11 am

SABUN: Pasca zaman pertengahan sampai abad ke 20

Itali, Spanyol dan Perancis merupakan pusat pembuatan sabun yang paling awal, karena tersedianya bahan baku yang mudah diperoleh berupa minyak zaitun dari pohon zaitun.  Marseilles di Perancis lah yang menjadi pusat pertama disusul Genoa, lalu Venesia.  Meskipun ada beberapa pembuat sabun di Jerman, benda ini jarang sekali digunakan di Eropa Tengah, sehingga sekotak sabun yang dipersembahkan kepada Duchess of Juelich pada tahun 1549 menimbulkan sensasi besar.  Pada tahun 1672 seorang Jerman A. Leo mengirim bingkisan hadiah berisi sabun kepada Lady von Schleinitz, yang didalamnya disertai uraian penjelasan rinci tentang cara memakai benda misterius tersebut.

Sabun Castile, seluruhnya dibuat dari minyak zaitun, dibuat di Kerajaan Castilia (sekarang bagian dari Spanyol) kira-kira tahun 1616.  Abu alkali yang disebut barilla dari pohon semak  Salsolas, direbus bersama minyak zaitun sebagai pengganti lemak binatang.  Dengan menambahkan larutan pekat garam kedalamnya, sabunnya akan naik ke permukaan dan diambil, meninggalkan sisa soda api dan pencemar lain di dasar. Ini mungkin merupakan produk sabun keras pertama, yang semakin tua akan makin mengeras, tanpa berubah warna putihnya dan disebut jabon de Castila, yang menjadi sebuah nama generik.

Orang Inggris baru membuat sabun dalam abad ke 12  di Bristol.  Catatan pada Bristol Company of Soapmakers untuk tahun 1562-1642 menunjukkan nama 180 orang yang terlibat dalam bisnis sabun.  Disebutkan pula jenis sabun bernama “Bristol Soap” yang berwarna hitam dan juga “Bristol Grey Soap” yang lebih keras, berwarna abu-abu yang diproduksi masal untuk dikirim ke London tahun 1523 dengan harga satu penny per pound (1/2 kg). Bisnis sabun begitu bagus; pada tahun 1622 Raja James memberikan hak monopoli kepada seorang pembuat sabun dengan membayar imbalan $100,000 setahun.

Di Perancis, selama Raja Louis XIV (1638-1715)  berkuasa, mandi merupakan keanehan, bukan kebiasaan. Diceritakan bahwa Raja Louis menghukum mati dengan pisau guillotin 3 pembuat sabun, karena sabun yang mereka produksi menimbulkan iritasi pada kulit sang Raja yang sensitif.  Di dorong rasa takut dan putus asa, 4 orang pembuat sabun lainnya berembug dan menciptakan cara untuk mencetak dan mematangkan sabun – perlu satu bulan untuk membuat satu batang sabun saja.  Mereka pun berhasil menyelamatkan leher mereka dari pisau guillotin, dan dunia juga memperoleh cara membuat sabun handmade. (sabun tuang, sabun proses dingin, sabun pedesaan, sabun yang telah dimatangkan/cured).

Tulisan yang dikenal sebagai karya ilmuwan Arab, Jabir bin Hayyan berulangkai menyebut sabun sebagai zat pembersih.   Orang Arab membuat sabun dari minyak nabati atau minyak atsiri, misalnya minyak thymus.  Soda api (Al-Soda Al-Kawia) NaOH pun dipakai untuk pertama kalinya dan rumusnya tidak pernah berubah seperti sabun yang sekarang beredar di pasaran.  Sejak awal abad ke 7 sabun diproduksi di Nablus (Palestina), Kufa (Irak) dan Basara (Irak).  Sabun Arab diberi pewangi dan pewarna, ada yang padat keras, ada yang cair.  Mereka juga mempunyai sabun khusus untuk bercukur. Sabun diperdagangkan seharga 3 Dirhams (0,3 Dinar) per batang di tahun 981 M.

Pembuatan sabun di koloni Amerika pada awal abad ke 17 diawali dengan datangnya para pembuat sabun di atas kapal kedua dari Inggris yang berlabuh di Jamestown, Virginia.  Selama bertahun-tahun pembuatan sabun merupakan kegiatan rumahtangga belaka.  Lalu para pembuat sabun profesional mulai menampung sisa lemak rumahtangga yang mereka tukar dengan sabun.

Nicolas Leblanc seorang ahli kimia Perancis menemukan cara pembuatan soda api dari garam, yang lebih mudah dan cepat dan murah yang disebut proses Leblanc pada tahun 1852.  Namun cara ini menjadi usang dengan diketemukannya proses Solvay atau proses amonia oleh orang Belgia bernama Ernest Solvay, yang juga menggunakan garam dapur.  Proses Solvay mengurangi biaya pembuatan alkali serta meningkatkan volume dan mutu hasil soda yang dapat dipakai para pembuat sabun.

Berbagai penemuan ilmiah ini, disertai dengan diketemukannya tenaga listrik untuk mengoperasikan pabrik, membuat industri sabun sebagai industri paling pesat di tahun 1850an.  Kemudahan memperoleh sabun juga mengubahnya dari barang mewah menjadi barang keperluan sehari-hari.  Dengan meluasnya penggunaan sabun dikembangkan pula sabun yang lebih lunak untuk mandi dan juga sabun untuk mesin pencuci yang dapat diperoleh konsumen pada pergantian abad itu.

Dalam abad ke 19, sabun dikenai pajak tinggi sebagai barang mewah di beberapa negara. Ketika pajak yang tinggi dihilangkan, sabun pun menjadi terjangkau oleh rakyat biasa, dan standar kebersihan pun meningkat.  Inggris dan Perancis menghilangkan pajak sabun pada tahun 1852 sehingga sabun menjadi komoditas rumahtangga untuk kebersihan diri dan dan mencuci.

Kimiawi pembuatan sabun pada dasarnya tetap tak berubah sampai tahun 1916 ketika deterjen sintetik yang pertama dibuat di Jerman sebagai imbas akibat Perang Dunia 1 di mana lemak sulit diperoleh untuk membuat sabun.  Deterjen adalah zat pembersih bukan-sabun yang dibuat secara sintetis dari berbagai bahan.  Penemuan deterjen juga didorong oleh kebutuhan akan suatu zat pembersih yang, tidak seperti sabun, tidak akan bersenyawa dengan garam mineral di dalam air dan membentuk substansi yang tidak larut dalam air.

 

Anda Tertarik dan Berminat? 29 Desember 2008

Filed under: Saya Berminat — halalsoapmaker @ 9:35 am

solusi5a21Alhamdulillah.  Insya Allah dengan menjenguk posting ini anda akan menjadi lebih tertarik dan berminat untuk mencoba dan memakai “Soapy Nature”.  Tidak susah kok – anda hanya perlu mengirim email kepada kami (soapynature@gmail.com) guna mengutarakan minat anda untuk mencoba/membeli “SoapyNature”.  Di bawah ini kami sajikan informasi tentang jenis “SoapyNature” yang telah tersedia beserta masing-masing harganya. Berapa harganya …? Harganya memang lebih tinggi dibanding sabun komersial yang umum dijual di toko, super market atau mini market atau di warung – yah memang beda kualitas kok (baca dulu komentar mereka yang telah memakainya).  Namun saya yakin harga “SoapyNature” masih lebih murah dibanding dengan sabun bikinan tangan yang sejenis (terutama bikinan luar negeri), yang juga telah ramai diproduksi dan dijual di berbagai Mal.  Mutunya?  Ya harus coba dulu baru tahu sendiri … Kalau saya mengatakan mutunya bagus ya memang sudah seharusnya … kan saya yang bikin …

Untuk pembelian di atas 10 biji kami berikan diskon sebesar 10% sedangkan untuk pembelian di atas Rp.200.000 kami berikan diskon 15%.  Bagi anda yang ingin membeli untuk dijual kembali kami harapkan diskon ini sudah memadai –  berdasarkan pengalaman, beberapa teman bisa menjual SoapyNature dengan harga jauh lebih tinggi daripada harga dari kami.  Yah, memang pada umumnya para penjual malah lebih tinggi untungnya daripada produsen.
Tentu saja untuk mengirimkan pesanan anda kami harus mengenakan biaya penanganan dan pengiriman.  Biasanya pesanan kami kirimkan melalui Pos Kilat Khusus (atau Paket Pos Kilat Khusus),  Biayanya tergantung berat kiriman/pesanan – tetapi biasanya berkisar antara Rp.10.000-15.000 untuk wilayah DKI.  Untuk luar DKI, minimal Rp.15.000.  Insya Allah pesanan anda akan sampai ke alamat anda dalam waktu 3-4 hari sesudah bukti transfer kami terima kopi atau nomernya.
Bila anda ingin pesan dan barangnya segera dikirim, anda bisa langsung hitung sendiri harganya, ditambah ongkos kirim lalu transfer ke Rekening BCA No. 2871188841 a/n Iskandar dan sms kan nomer bukti transfernya ke 0811914065.
Nah, kami tunggu email dan pesanan anda semua.
Salam
HalalSoapMaker

Jenis/Varian % Minyak Zaitun Harga/biji Isian
1 Habatussauda 20-22% Rp.10.000 Serbuk halus + minyak habattussauda
2 Habatussauda- Madu 30% Rp.12.000 Serbuk halus + minyak habattussauda
3 GreenTea-Cinnamon 20-22% Rp.10.000 Serbuk halus Kayumanis
4 Aloe Vera / Lidah buaya 20-22% Rp.9.500 Jus Lidah Buaya
5 Papaya 20-22% Rp.9.500 Jus Papaya
6 Kunyit-Madu 20-22% Rp.10.000 Serbuk halus kunyit+Madu
7 Sereh-Madu 20-22% Rp.10.000 Minyak sereh wangi+Madu
8 Zaituna50-Susu-madu 50% Rp.12.000 Madu
9 Alpukat 20-22% Rp.9.500 Jus Alpukat
10 Wortel 20-22% Rp.9.500 Jus Wortel
11 Sirih 20-22% Rp.9.500 Air Sirih
12 Bengkoang 20-22% Rp.9.500 Sari Bengkoang
13 Susu Kambing-Madu 20-22% Rp.12.000 Madu

 

Sabun dalam bahasa dunia 24 November 2008

Filed under: Uncategorized — halalsoapmaker @ 10:40 pm

Bahasa

Istilah

1

Basque

xaboi/jaboi

2

Belanda

zeep

3

Catalan

sabó

4

Ceko

mýdlo

5

Denmark/Danish

sæbe

6

Estonia

seep

7

Finlandia

saippua

8

Hungaria

csúszópénz / kenés

9

Hungaria

szappan / vesztegetési pénz

10

Inggris

soap

11

Italia

sapone

12

Jerman

einseifen / Seife

13

Kroasia

sapun

14

Latvia

ziepes

15

Norwegia

såpe / såpe inn

16

Perancis

savon

17

Polandia

mydło

18

Portugis

sabão

19

Romania

săpun

20

Serbia

sapun

21

Slovakia

mydlo

22

Slovenia

milo

23

Spanyol

jabón

24

Swahili

sabuni

25

Swedia

tvål

26

Turki

sabun