Cara Membuat Sabun

•23 Mei 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
Berbagai macam proses pembuatan sabun:
Saya yakin bahwa di antara anda semua ada yang pernah pada suatu ketika, mungkin waktu masih duduk di bangku sekolah menengah atau bahkan waktu masih di sekolah dasar, diberi pelajaran prakarya tentang bagaimana caranya membuat sabun. Atau barangkali sebagian dari anda yang senang kutak-katik mencari tambahan ketrampilan pernah membaca buku tentang hal yang sama. Masih ingat atau sudah lupa?

Tetapi pasti yang anda pelajari hanya satu macam cara atau proses saja bagi pembuatan sabun ini, yaitu yang disebut sebagai proses dingin” alias tidak menggunakan bantuan panas
tambahan dari luar. Sebenarnya ada juga yang memakai “proses panas” yang memanfaatkan tambahan panas dari luar alias direbus. Satu proses lain lagi adalah yang paling mudah dan aman, tetapi sebenarnya tidak bisa dikatakan “membuat” sabun melainkan hanya memberi sentuhan akhir saja pada pembuatan sabun. Proses ini disebut melt and pour” atau “lelehkan dan tuangkan” karena caranya hanya melelehkan sabun dasaran (belum pakai warna dan pewangi dan tidak berbentuk serta hanya bahan dasar saja yang dipakai), menambahkan warna dan pewangi serta bahan lain untuk meningkatkan mutunya, lalu menuangkannya ke cetakan sabun yang kita kehendaki. Di sini kita hanya akan membicarakan “proses dingin” saja.

Bagi yang pernah belajar dan masih ingat, pasti akan bersetuju dengan saya bahwa sebenarnya membuat sabun itu mudah sekali atau yang lebih tepat, sederhana sekali. Bagaimana tidak sederhana; kan kita hanya perlu mencampurkan TIGA bahan utama pembuatan sabun, yaitu: minyak atau lemak, soda api (NaOH) untuk sabun padat atau KOH untuk sabun cair, dan air. Sesederhana itukah? Benar sekali, ya memang sesederhana itu! Hanya saja cara mencampurkan
ketiga bahan itulah yang mungkin membuatnya sedikit agak rumit. Apakah air dicampur dulu dengan minyak lalu ditambah soda, atau minyak dengan soda dahulu atau bagaimana? Yang lebih rumit lagi, seperti apa sebaiknya perbandingan volume atau berat masing-masing bahan agar tercipta sabun berkualitas atau sabun yang kita idam-idamkan. Itu semua akan kita bahas sebentar nanti.

Sebelum kita bahas cara mencampur ketiga bahan tersebut sebaiknya kita ulas dulu masing-masing bahan tersebut.
Minyak/Lemak.
Minyak apa saja yang bisa kita pakai? Yang terang bukan sebangsa minyak tanah atau bensin

dan sejenisnya, tetapi minyak atau lemak yang berasal dari tumbuhan
(minyak nabati) maupun dari binatang (lemak hewani). Pada awalnya lemak binatang lebih banyak dipakai daripada minyak nabati, namun sekarang sebagian besar yang dipakai adalah minyak nabati, meskipun masih banyak sabun yang memakai lemak hewan. Di sinilah letak kerawanan sabun bagi umat Islam, karena banyak sabun (terutama yang diimpor dari luar negeri) yang juga memakai lemak hewan yang berasal
dari babi (dalam bahasa Inggris biasanya ditulis sebagai “lard” sedangkan lemak sapi biasanya disebut“tallow”) atau hewan yang disembelih tanpa ucapan “bismillah” alias bangkai dalam pengertian hukum Islam. Lemak hewan menghasilkan sabun yang lebih keras, sedangkan minyak nabati menghasilkan sabun yang lebih lunak. Salah satu minyak nabati yang bisa menghasilkan sabun yang keras adalah minyak kelapa. Loh, kok minyak kelapa?! Emangnya sabun dibuat dari minyak kelapa yang dulu (sebelum minyak sawit lebih mudah diperoleh dan lebih murah) dipakai menggoreng kerupuk dan tempe? Iya, benar! Demikian juga minyak sawit alias minyak goreng ! Bahkan ada pembuat sabun yang mendaur-ulang minyak jelantah alias minyak bekas menggoreng, sebagai bahan pembuat sabun (sesudah dibersihkan/disaring tentunya dan sabunnya juga hanya untuk mencuci piring atau pakaian saja seharusnya)! Bayangkan saja kalau minyak jelantah penggoreng ikan yang dipakai, sabunnya kita pakai untuk wajah!

Memang semua pabrik atau pembuat sabun tidak memakai nama awam bagi bahan yang sabun yang dipakainya. Mereka memakai nama Latin seperti cocus nucifera alias kelapa atau oleum cocos untuk minyak kelapa; oleum elaeis alias minyak sawit atau minyak goreng; oleum Maydis
alias minyak jagung dan sebagainya. Mungkin supaya kedengaran keren atau tidak ketahuan
bahwa semuanya adalah bahan yang ada di dalam rumah atau dapur kita.


Minyak yang paling umum dipakai adalah minyak sawit. Murah (di Indonesia, tetapi tidak di Barat sono). Minyak kelapa kan mahal sekarang, kira-kira 2 X harga minyak sawit – apalagi kalau minyak sawit yang dipakai adalah minyak goreng curah. Untuk sabun yang lebih eksklusif dan berkelas orang memakai minyak zaitun (lih.gambar), minyak kedelai, minyak canola, bunga matahari, cocoa butter (mentega cacao) – semuanya barang impor; ada juga yang namanya shea butter yang bahannya berasal dari Afrika, sangat bagus untuk sabun. Bahkan apa yang banyak dikenal para pembuat kue sebagai mentega putih atau vegetable shortening yang membuat kue renyah, dipakai juga sebagai campuran bahan sabun.
Soda-api atau soda kostik (Soda Natrium – NaOH)
Ini merupakan zat yang bersifat basa atau alkali, yang dibuat dari abu pembakaran kayu (paling baik dari kayu keras). Soda-api adalah basa yang kuat dan akan “membakar” kulit bila kristal

/serbuk atau larutannya tersentuh oleh kulit kita. Pakaian pun bila terpercik olehnya akan bolong jadinya, sama dengan kalau terkena asam sulfat (asam pengisi aki mobil/motor). Kalau saluran air (wastafel atau bak cuci piring) anda kebetulan tersumbat, soda-api bisa menjadi solusinya. Itulah makanya soda-api selalu tersedia di toko bahan bangunan. Namun, jangan khawatir dulu, mengapa bahan yang begitu berbahaya kok ternyata menjadi bahan utama pembuatan sabun yang anda pakai di kulit termasuk wajah anda. Di kalangan pembuat sabun ada ungkapan bahwa: “bukan sabun kalau tidak memakai soda-api” (ungkapan ini ada karena sekarang banyak bahan pembersih -termasuk untuk kulit manusia- yang memanfaatkan deterjen sintetis – yang sebenarnya tidak ramah kulit – yang dibuat tanpa bantuan soda-api). Bahkan sabun cair pun harus dibuat memakai “soda-api” juga meskipun berbeda jenisnya, yaitu soda kalium atau KOH. Akan kita lihat nanti apa yang diperankan oleh zat berbahaya ini dalam pembuatan sabun.

Air tidak usah kita bahas terlalu panjang karena fungsinya hanya sebagai pelarut soda-api meskipun volume air yang dipakai juga harus ditakar sedemikian rupa, karena banyaknya air yang dipakai akan sangat mempengaruhi konsistensi atau kepadatan/kekerasan sabun yang dihasilkan. Asal tahu saja bahwa dalam hal SoapyNature, kira-kira separuh dari air yang dibutuhkan diganti dengan SUSU.
Saponifikasi atau penyabunan: Nah, kini tiba saatnya kita bicarakan tentang proses terjadinya sabun. Saponifikasi (bukan dari kata “sapo” yang dijual di restoran, tetapi dari kata “sapon” yang artinya sabun) adalah proses bereaksinya lemak atau minyak dengan alkali (soda-api) di mana “keras”nya soda-api akan dinetralkan oleh lemak dan sebaliknya triglycerida yang terkandung dalam minyak/lemak diubah menjadi garam asam lemak dan glycerol atau glycerin. Dalam hal ini jumlah minyak/lemak yang tersedia harus cukup untuk menetralkan semua alkali yang dipakai – kalau tidak maka sabun akan bersifat “keras” dan bisa merusak kulit. Kita mengenal istilah angka saponifikasi yang menunjukkan porsi alkali yang diperlukan untuk mengubah minyak menjadi sabun. Angka saponifikasi masing-masing jenis minyak berbeda karena kandungan asam lemak mereka juga berbeda. Angka saponifikasi inilah yang “harus diketahui” oleh semua pembuat sabun – ada tabelnya untuk banyak macam minyak. Tetapi ada juga program komputer untuk menghitung banyaknya soda-api yang harus dipakai untuk campuran berbagai macam minyak dengan takaran yang berbagai macam pula. Kita bisa mengatur campuran berbagai macam minyak sedemikian rupa agar sabun lebih keras, atau lebih melembabkan, lebih banyak buih “bubble” (gelembung-gelembung) atau buih krimnya.
pH Sabun
pH adalah istilah kimia yang menunjukkan tingkat keasaman, kebasaan atau kenetralan suatu zat. Angkanya berkisar dari 1 s/d 14 – dengan sifat/keadaan netral berada di angka 7. Makin rendah angkanya (di bawah 7), maka sifat zat itu makin asam sedangkan makin tinggi (diatas 7) berarti makin kuat sifat basanya. Untuk sabun, pH 7 adalah yang paling bagus karena netral, namun sangat jarang sabun (bahkan sabun komersial) yang pH-nya 7 alias netral. pH 10 dikatakan masih bisa diterima untuk sabun (bahkan sabun komersialpun ada yang pH-nya 10). Namanya tak usahlah dtulis di sini -ntar bisa dikenai pasal yang dikenakan pada mbak Prita. Untuk sabun “handmade”, makin tua pHnya akan makin turun. SoapyNature yang baru keluar dari cetakan pH-nya juga 10, tetapi yang sudah beberapa bulan, ada yang turun sampai 8. pH bisa diukur emakai kertas lakmus atau bisa juga yang lebih akurat dengan pH meter

Mengapa membuat sabun sendiri atau mengapa sabun buatan tangan?
Sebelum kita melanjutkan bicara tentang proses membuat sabun, saya yakin pertanyaan ini perlu dijawab. Di atas disebutkan bahwa saponifikasi juga menghasilkan glycerin. Ini adalah zat cair yang bersifat hidroskopis alias menyerap/mengikat uap air dari udara dan karena itu mampu membuat kulit menjadi lebih lembab, tidak kering. Nah, di pabrik sabun komersial glycerin ini dipisahkan untuk dijual terpisah – tetapi pembuat sabun handmade tidak melakukan hal ini sehingga sabun handmade mengandung glycerin alami. Ada juga sabun pabrik yang ditambahi glycerin secara khusus, tetapi bagi umat Islam disini pula letak kerawanannya. Glycerin dapat dibuat juga dari lemak hewan dan kehalalan lemak tersebut bisa menjadi pertanyaan besar. Membuat sendiri sabun kita juga memberi kita kebebasan menentukan, sabun seperti apa yang kita ingin pakai, meskipun harganya mungkin bisa jatuh lebih mahal daripada sabun pabrik/komersial pada umumnya.
Membuat larutan soda-api
Untuk membuat terjadinya reaksi saponifikasi, soda-api harus dilarutkan terlebih dahulu. Jadi yang harus dicampur pertama kali adalah soda-api dengan air. Seberapa banyak air atau cairan yang harus digunakan untuk melarutkan soda-api yang akan kita pakai? Ada rumus yang menganjurkan perbandingan berat (bukan volume) air dengan minyak yang dipakai sebesar 38%. Ada juga anjuran agar porsi soda-api dalam larutan kurang dari 40% agar sabun yang dihasilkan tidak mengandung sisa soda-api (alias pH-nya mendekati netral). Yang jelas, ada larangan dalam membuat larutan soda-api, yaitu: jangan membuat larutan soda-api dalam bejana aluminum dan jangan menuangkan air kedalam bubuk/ kristal soda-api. Aluminum akan bereaksi dan termakan oleh larutan soda-api, dan akan terjadi

gejolak/letupan bila soda-api dituangi air – jadi harus sebaliknya: soda-api dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam air (harus air dingin – bahkan kalau bisa pakai es lebih baik/aman) sambil diaduk. Sesudah soda-api terlarut dalam air, larutan akan menjadi panas (sangat panas). Jangan sampai terpercik ke luar dan mengenai kulit atau pakaian kita (pakailah sarung tangan, baju lengan panjang dan gogle pelindung mata). Larutan soda-api yang panas ini harus dibiarkan dulu di tempat aman sampai menjadi dingin sebelum dicampur dengan minyak (agar cepat dingin rendam bejananya dalam bak air yang mengalir).
Superfatting
Istilah ini kalau di-Indonesiakan artinya adalah “melebihkan minyak”. Istilah ini mendasarkan diri pada minyak/lemaknya sedangkan kalau dilihat dari segi soda-api (lye) nya, istilahnya disebut “lye discount” alias “pengurangan soda-api”. Secara sederhana maksudnya adalah, tidak semua minyak yang dipakai akan diikat atau diubah oleh soda-api menjadi garam asam lemak – berarti masih ada minyak yang tersisa yang terkandung dalam sabun. Pada umumnya sabun handmade (begitu pula halnya dengan SoapyNature) memanfaatkan opsi ini dengan 5% superfatting alias, sebanyak 5% minyak yang dipakai tetap ada di dalam sabun untuk melembabkan kulit, apalagi kalau dalam campurannya terdapat minyak zaitun yang berkhasiat bagus untuk kulit! Superfatting juga membantu agar pH sabun nanti lebih mendekati netral karena basa-nya akan bereaksi semua dengan minyak

Menyiapkan campuran minyak

Ada banyak resep yang bisa kita pakai dengan segala macam campuran minyak yang bisa kita peroleh atau bila anda cukup kreatif bisa saja bereksperimen sendiri dengan berbagai campuran minyak. Semua resep yang ada biasanya sudah menunjukkan pula berapa soda-api yang diperlukan. Satu hal penting untuk diperhatikan adalah bahwa semua resep berdasarkan berat (bukan dalam volume) apapun juga satuan beratnya sehingga diperlukan timbangan yang akurat, sebaiknya timbangan digital. Yang penting dan harus diperhatikan dalam meracik campuran minyak adalah sifat masing-masing minyak itu sendiri yang dipengaruhi oleh jenis asam lemak yang dikandungnya. Minyak kelapa misalnya, mempunyai kandungan asam laurat yang tinggi (hampir 50%) sehingga pengaruhnya pada sabun adalah lebih keras konsistensinya, lebih kuat daya penghilang lemaknya (membersihkan dengan lebih baik), dan lebih banyak busa gelembung (bubble)nya. Karena lebih menghilangkan lemak di kulit, maka terlalu banyak minyak kelapa dalam racikan/resep sabun akan menyebabkan sabun yang dihasilkan akan membuat kulit cenderung kering. Lain dengan minyak zaitun yang sangat tinggi kandungan asam oleatnya sehingga satu-satunya kelebihan penting sekali yang dimiliki minyak zaitun adalah sifat “conditioning”, melembabkan dan melembutkan kulit.

Mencampurkan Larutan Soda-api dengan Campuran Minyak

Ini tidak boleh dilakukan pada saat salah satu dari keduanya masih panas suhunya – jadi

suhunya harus kira-kira sama dengan suhu badan kita. Caranya, kita tuangkan pelahan-lahan larutan soda-api ke dalam minyak, sambil diaduk pelahan-lahan. Bila semua sudah tertuang, harus diaduk terus (gerakkan pengaduk membuat angka 8) sampai tercapai keadaan yang dinamakan “trace” (bila pengaduk digoreskan ke permukaan adonan akan meninggalkan bekas goresan atau ketika pengaduk diangkat ada adonan yang ikut menempel dan menucur seperti tali dari ujungnya) atau dengan kata lain menjadi kental, tetapi tidak terlalu kental. Kalau mau, dan bahkan lebih baik, pengadukan bisa dilakukan dengan “stick blender” atau “mixer” yang biasa dipakai membuat adonan kue – gunakan kecepatan rendah atau sedang saja. Pengadukan bisa memerlukan waktu sampai 20-30 menit sebelum “trace” tercapai. Pada saat awal tercapainya “trace” merupakan saat tepat untuk menambahkan pewarna ataupun pewangi bila diinginkan.
Mengimbuhkan warna dan aroma
Ini sangat tergantung selera. Saya pakai istilah aroma dan bukan pewangi karena ada yang suka aroma yang tidak wangi tetapi sedap seperti berbagai rempah-rempah, misalnya kayumanis. Yang perlu diketahui tentang aroma adalah ada pewangi alami (termasuk rempah-rempah, minyak atsiri -cengkeh, pala, bunga mawar, melati, dsb) dan aroma sintetis/buatan yang bisa meniru/memalsukan segala macam aroma. Yang baik tentu saja yang alami meskipun banyak orang lebih tertarik pada bau/aroma yang wangi tanpa peduli apakah bahannya sintetis atau alami. Padahal kata para ahli, pewangi sintetis bisa berpengaruh pada kesehatan kulit (alergi) sedangkan yang alami lebih jarang menimbulkan alergi. Bisa dipastikan semua sabun pabrik yang wanginya kuat menyengat bahan pewanginya sintetis, karena minyak atsiri yang dipakai sebagai pewangi harganya sangat mahal dan aromanya cenderung lembut.

Tentang pewarna, agak lebih sulit karena pewarna yang diperdagangkan dan harganya terjangkau lebih banyak berbasis air sedangkan untuk sabun, yang baik adalah yang berbasis minyak (kan bahan sabunnya dari minyak). Bisa juga memakai pewarna alami seperti kunyit, kayumanis, indigo/nila, atau yang dibuat dari alam adalah senyawa oxide (titanium dioxide, iron oxide), aquamarine, bentonit dsb. Bentonit malah juga bisa berfungsi sebagai exfolian (scrub). Serbuk habatussauda memberi hwarna hitam sekaligus sebagai exfoliant, demikian juga dengan serbuk kayumanis (warna cokelat tua).
Mencetak sabun
Bila “trace” telah tercapai dan warna serta pewangi telah dicampurkan, tibalah saatnya sabun kita cetak. Anda bisa menggunakan apa saja sebagai cetakan asal bahannya bukan aluminum. Sebelum dituangi adonan cetakannya diolesi dulu dengan lemak/minyak atau vaselin agar tidak lengket. Bisa juga dialasi dengan kain basah (diperas). Pipa pvc dapat juga dipakai sebagai cetakan yang praktis meskipun terkadang kalau sabun sudah keras bisa sulit keluar dari cetakan (bila terjadi masukkan dulu semua ke dalam freezer selama 10-15 menit – sabun akan mudah keluar dari pipa).

Sesudah semua dituang/dicetak, meraka harus ditutup dengan kertas tissue (towel paper), lalu diselimuti berlapis-lapis (agar panas yang terjadi tidak hilang ke luar) antara 8 – 24 jam baru bisa dikeluarkan dari cetakan. Dalam 2-3 jam sesudah dituang ke cetakan dan diselimuti rapat, adonan sabun akan menjadi sangat panas meskipun masih bisa dipegang wadahnya. Pada saat itu adonan sabun mengalami fase jel (berubah menjadi jel). Bahkan sesudah lebih dari 12 jam pun, asal selimutnya belum dibuka, masih akan tetap panas.

Terserah pada anda bagaimana anda mau memotong sabunnya bila sudah keluar dari cetakan. Yang perlu diperhatikan adalah, sabun perlu waktu untuk curing” atau menjadi matang antara 2- 6 minggu (pada prakteknya saya biasa memakai sabun yang saya bikin dengan aman sesudah satu minggu) dengan ditaruh di tempat terbuka dan berangin.

Selamat mencoba bagi yang berminat – kalau perlu silahkan bertanya ke soapynature@gmail.com

KHASIAT BERBAGAI BAHAN ISIAN SABUN

•26 Maret 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Susu

Susu mengandung asam beta hydroxy alami yang tidak saja berfungsi sebagai peeling yang mengikis kotoran dan mengelupas kulit mati, tetapi juga memperhalus lapisan di bawahnya. Susu membuat kulit menjadi halus, bersinar dan tidak bersisik. Selain itu, kandungan protein dalam susu juga berguna sebagai suplai nutrisi yang berfungsi melembabkan sekaligus melapisi permukaan kulit agar lebih halus dan kenyal. (berbagai sumber)


TEH HIJAU

Teh hijau merupakan antiseptik alami yang meredakan peradangan, bengkak dan gatal pada kulit.  Termasuk juga luka karena terbakar matahari dan sebagainya. Teh hijau juga dapat digunakan untuk mengempiskan jerawat, kulit terbakar bahkan kelopak mata yang membengkak. Pada uji lab, teh hijau mampu melindungi kulit dari bahaya sinar UV yang memicu munculnya kanker kulit, baik dengan cara meminumnya atau mengoleskannya langsung pada kulit. 

Selain diseduh dan diminum langsung, manfaat teh juga bisa kita rasakan jika kita mandi menggunakan ramuan teh hijau, khususnya untuk mengobati peradangan akibat penyakit kulit.   Dalam sebuah studi yang dilakukan peneliti dari fakultas kedokteran Universitas Georgia dan dipublikasikan dalam jurnal Experimental Dermatology, disimpulkan bahwa teh hijau efektif mengobati peradangan akibat penyakit kulit seperti psoriasis, bahkan lesi kulit yang berkaitan dengan penyakit lupus. (berbagai sumber)

MADU

Sejak dahulu madu telah digunakan sebagai bahan dasar perawatan kulit. Selain teksturnya yang lembut, kandungan madu sangat kaya akan vitamin, mineral, antioksidan dan potasium yang dapat digunakan sebagai pelembab, penyegar bahkan masker wajah. Selain itu madu juga mengandung antibiotika sebagai antibakteri dan antiseptik menjaga luka.  Madu merupakan humectant yang berarti memiliki kemampuan untuk menarik dan mengikat kelembaban. 

Zat alami yang terkandung dalam madu membantu tubuh menjalankan fungsinya dalam melembabkan kulit. Lebih dari itu, madu alami cocok untuk segala jenis kulit, bahkan bagi kulit  yang sangat sensitif sekalipun. Sebuah penelitian terbaru menyebutkan efektivitas madu sebagai antimicrobial agent, yang berfungsi mencegah pertumbuhan bakteri. Kandungan antimicrobial dalam madu membuatnya bermanfaat dalam perawatan jerawat ringan. (berbagai sumber)

WORTEL

Wortel dapat digunakan untuk menghaluskan kulit.  Kandungan Beta carotene dalam buah ini juga merupakan anti oksidan yang dapat membantu memperlambat proses penuaan.  Wortel dapat dimanfaatkan untuk facial terutama bila kulit anda normal cenderung berminyak. Kandungan vitamin A dan C-nya yang tinggi sangat baik untuk kulit wajah. (berbagai sumber)

LIDAH BUAYA

Gel lidah buaya seringkali digunakan untuk mengobati luka gores, tersayat, gigitan serangga dan ruam. Lidah buaya diduga juga jadi bahan rahasia kecantikan Cleopatra.  Jika Anda bermasalah dengan jerawat atau memiliki kulit berminyak, lidah buaya bisa jadi pilihan bagus untuk perawatan wajah. Ph pada lidah buaya mengembalikan keseimbangan kulit sekaligus membersihkan kulit yang bernoda.  Lidah buaya juga melembabkan kulit. 

Zat lignin yang dikandungnya diyakini dapat menembus sekaligus meresap ke dalam kulit serta menahan hilangnya cairan dari permukaan kulit. Dengan demikian kulit jadi tidak cepat kering sementara kelembapannya tetap terjaga.  Kandungan enzim cellulose, amylose, protein dan biogenik simulator merupakan zat aktif dapat membantu metabolisme dan merangsang pertumbuhan dan regenerasi se-sel kulit. (berbagai sumber)

PAPAYA

Buah pepaya mengandung getah berwarna putih yang mengandung enzim pemecah protein yang populer dengan sebutan papain.  Papain bisa melarutkan sel-sel mati yang melekat pada kulit dan sukar terlepas secara fisik. Noda dan flek di wajah bisa dikikis oleh papain hingga menjadi mulus dan bersih.  Papain pun mengandung 1,2% sulfur yang berfungsi mengobati penyakit kulit seperti jerawat, kutil, dan bekas luka.  Lebih dari 50 asam amino terkandung dalam getah pepaya bersatu padu menjadi bahan baku industri kosmetik untuk menghaluskan kulit dan menguatkan jaringan agar lebih kenyal. (berbagai sumber

KUNYIT

Kunyit bermanfaat sebagai antioksidan, antiseptik, antibakteri, antijamur dan antialergi. Kunyit dapat menghilangkan gatal-gatal di kulit, serta berfungsi sebagai stimulan hingga peredaran darah lancar.  Untuk pemakaian pada kulit, secara tradisional kunyit banyak dipakai untuk infeksi kulit. (berbagai sumber)


LABU KUNING

Labu kuning sangat cocok untuk eksema (eksim).  Labu kuning berkhasiat melindungi dan menyejukkan luka, kulit kasar dan mencegah kulit bersisik.  Labu kuning kaya akan komponen alami seperti vitamin A dan C, B, betakaroten anti-oksidan dan banyak lagi.  Labu juga mengandung enzim dan asam salicylic, asam lactic dan asam ascorbic, yang secara lembut mengelupas bagian kulit yang bersisik.  Labu kuning mengurangi oksidasi dan efek radikal bebas di kulit, memberikan nutrisi ke kulit dan merangsang penyembuhan, membuat kulit bersinar dan terlihat sehat.   (berbagai sumber)


Rahasia di balik mutu sabun yang baik

•8 Februari 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
  1.        Apa saja yang mempengaruhi mutu sabun?

Enak atau tidaknya sebuah hidangan sangat tergantung pada bahan yang kita masak tentunya.  Makan nasi yang pulen dari beras pilihan dengan lauk yang lengkap bagi sebagian besar orang Indonesia jelas lebih lezat daripada makan bulgur atau nasi jagung dengan lauk sekedarnya.  Bahan pembuat lauk pun dan cara memasaknya juga akan mempengaruhi kelezatan makanan kita.  Untuk sabun, setali tiga uang; bahan yang diracik untuk membuat sabun dan cara mengolahnya sangat mempengaruhi mutu sabun dalam arti enak, aman dipakai dan memenuhi tujuan si pemakai tentunya.  

Lha apa saja bahan pembuat sabun?

Bahan dasarnya adalah minyak atau lemak, bisa hewani ataupun nabati dan ada yang campuran.  Tentang minyak, terutama yang nabati, ada sabun yang hanya memakai satu macam minyak saja, ada juga yang memakai sampai belasan macam minyak.  Nah, jenis minyak yang dipakai serta racikan atau resepnya, perbandingan takaran masing-masing minyak sangat berpengaruh pada mutu sabun yang dihasilkan.

Saponifikasi

Agar menjadi sabun, minyak harus diolah melalui sebuah proses yang disebut saponifikasi, yakni bereaksinya asam lemak dengan basa atau alkali, dalam hal ini adalah NaOH (di pasaran disebut soda api) untuk sabun padat, atau KOH untuk membuat sabun cair.  Masing-masing jenis minyak mempunyai angka saponifikasi yang berbeda satu sama lain.  Angka saponifikasi menunjukkan seberapa banyak soda yang diperlukan agar minyak tersebut berubah menjadi sabun.  Berarti, makin banyak jenis minyak yang dipakai agak makin rumit hitungannya.  

Super-fatting

Bila soda yang dipakai terlalu banyak, sabun akan menjadi “keras” dalam arti bisa berbahaya bagi kulit karena bersifat terlalu basa/alkali.  Minimal kulit akan kering dan bisa terasa gatal-gatal.  Bila jumlah soda yang dipakai kurang, akan ada minyak yang tidak tersaponifikasi, artinya sabunnya mengandung minyak.  Sampai batas tertentu ini bagus dan banyak pembuat sabun yang dengan sengaja membuatnya demikian karena minyak membuat kulit menjadi lembab.  Istilah persabunannya adalah “super-fatting” dan biasanya “super-fatting” antara 5% sampai 8% malah dianjurkan.

Peranan jenis minyak dalam mempengaruhi mutu sabun

 Minyak atau lemak mengandung berbagai macam asam lemak yang satu sama lain berbeda.  Ada sederet nama asam lemak yang terkandung dalam minyak/ lemak bahan sabun: asam oleat, palmitat, ricinoleat, laurat, linoleat, linolenat, stearat dan myristat adalah yang paling penting.   Satu minyak bisa mengandung satu atau beberapa asam lemak ini.

Nah, masing-masing asam lemak ini pun punya khasiat sendiri terhadap sabun, yaitu dari segi keras/lembeknya sabun, daya bersihnya (kemampuannya mengikat lemak di kulit),  daya pelembabnya, dan kemampuan menghasilkan busa.  Ada dua macam busa yang bisa dihasilkan: busa berbuih/gelembung yang cepat hilang dan/atau busa krim yang lebih stabil, tahan lebih lama. Lihat tabel sifat asam lemak di bawah.

 

Kepadatan/

kekerasan

Daya bersih

Daya pelembut/ penghalus

Busa buih

Busa krim

Laurat

Ya

Ya

Ya

 

 

Myristat

Ya

Ya

Ya

 

 

Palmitat

Ya

 

 

Ya

 

Stearat

Ya

 

 

Ya

 

Ricinoleat

 

 

Ya

Ya

Ya

Oleat

 

 

 

 

Ya

Linoleat

 

 

 

 

Ya

Linolenat

 

 

 

 

Ya

Nah, sekarang kita kaji berbagai asam lemak itu; terkandung dalam minyak apa saja mereka, terutama yang dipakai membuat sabun SoapyNature.  Semuanya ada 7 macam minyak/lemak yang berbeda yang dipakai dalam pembuatan SoapyNature: minyak kelapa, minyak sawit, minyak zaitun dan mentega putih  (vegetable shortening) sebagai bahan utama, ditambah minyak castor, minyak habatussauda (hanya untuk SoapyNature habatussauda) dan asam stearat.

 

  • Minyak kelapa: menghasilkan sabun yang keras dengan busa gelembung banyak…. daya bersihnya sangat tinggi sehingga cenderung membuat kulit terasa kering; 
  • Minyak Sawit: sabunnya juga keras dan busanya cukup bagus.
  • Minyak Zaitun: sabun yang dihasilkan cenderung empuk tetapi kemampuannya melembabkan kulit sangat tinggi.
  • Mnyak kastor:sangat melembabkan kulit dan busanya sangat banyak, tetapi sabun cenderung sangat lunak.

Para ahli sabun telah merumuskan rentang angka bagi masing-masing sifat utama yang harus dimiliki sabun yang baik:

 

  Kepadatan/kekerasan

     36 sampai 50

  Daya bersih

     12 sampai 22

  Daya pelembut & penghalus

     45  smpai80

  Busa buih  

     14 sampai 33

  Busa krim

     16 sampai 35

Ini berarti, racikan sabun akan menghasilkan sabun yang memenuhi lima sarat tersebut di atas, bila hitungan angkanya masih berada di dalam rentang yang terpapar.  Untuk masing-masing racikan sabun, angka tersebut dapat dihitung dengan sebuah program komputer, dan hitungan yang dilakukan terhadap beberapa jenis SoapyNature menghasilkan angka sebagai berikut:

 

 

Kepadatan/

kekerasan

Daya bersih

Daya pelembut

Busa buih

Busa krim

Standar

36 – 50

12 – 22

45 – 80

14 – 33

16 – 35

Habatussauda

46

19

51

23

30

Bengkoang

48

17

48

22

25

Zaituna50-Susu-Madu

40

16

58

21

28

TehHijau-BungaLawang

47

16

49

21

35

 Lidah Buaya

 49

20 

47 

20 

29 

 Alpukat 

47 

20 

48 

 20

 27

 HabatusMadu 46 19 51 22 29

 

 

 

 

 

 

Alhamdulillah semuanya masih berada dalam rentang yang dianjurkan.  SoapyNature Zaituna 50-Susu-Madu terbukti daya pelembabnya paling tinggi.  Itulah sebabnya SoapyNature Zaituna50 Susu-Madu paling baik untuk kulit yang kering Perlu juga dicatat bahwa bahwa dalam hal SoapyNature, tingkat mutu yang terpapar di atas, hanya berdasarkan racikan berbagai minyak yang dipakai saja, sehingga masih harus ditambah dengan adanya bahan “isian” yang masing-masing punya khasiat sendiri, di samping sebagian besar punya khasiat sebagai anti-oksidan.  (lihat juga artikel terpisah tentang Zaituna50 Susu/Madu dan artikel Khasiat Berbagai Isian Sabun).

 Nah, dengan paparan yang cukup rinci ini pasti anda dapat akan dapat membuat keputusan sendiri yang berdasarkan ilmu tidak sekedar asal comot,  yang tentunya bisa anda sesuaikan dengan kebutuhan dan minat anda.

Selamat memilih. 

Hello world!

•20 Januari 2009 • Komentar Dimatikan

HalalSoapMaker membuat SoapyNature, sabun herbal handmade berbahan alami bermutu, Insya Allah halal. Pembuatan SoapyNature berawal dari hasrat memakai sabun bermutu tinggi dan halal. Umumnya sabun bermutu masih bikinan luar negeri. Bahan dasar sabun adalah minyak/lemak – jadi bisa saja lemak babi dipakai atau bahan haram/najis lain. Sabun handmade berbeda dari hasil pabrik. Proses “saponifikasi” menghasilkan glycerin, cairan yang menyerap air dari udara, membuat kulit lebih lembab. Di pabrik sabun, glycerin diambil sebagai hasil sampingan; ini tak terjadi pada sabun handmade. Sabun handmade telah menjadi trend luas di negara maju bagi penggemar sabun bermutu tinggi dan alami. SoapyNature mengandung minyak zaitun (minimal 20%) dan susu, yang ribuan tahun telah dipakai memelihara keindahan kulit perempuan, dan bahan lain yang berkhasiat bagi kulit (madu, habatussauda, lidahbuaya, wortel, papaya, tehhijau, alpukat, labukuning dll.) SoapyNature beraroma rempah, buah/bunga yang segar, alami dan lembut, nyaman dipakai, bisa membuat kulit lebih lembut, halus! Blog ini adalah media agar pembaca bisa membuat informed choice alias pilihan berdasar ilmu, dalam memilih sabun yang baik.

SABUN: Riwayatmu duluuuu …(2)

•18 Januari 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

SABUN: Pasca zaman pertengahan sampai abad ke 20

Itali, Spanyol dan Perancis merupakan pusat pembuatan sabun yang paling awal, karena tersedianya bahan baku yang mudah diperoleh berupa minyak zaitun dari pohon zaitun.  Marseilles di Perancis lah yang menjadi pusat pertama disusul Genoa, lalu Venesia.  Meskipun ada beberapa pembuat sabun di Jerman, benda ini jarang sekali digunakan di Eropa Tengah, sehingga sekotak sabun yang dipersembahkan kepada Duchess of Juelich pada tahun 1549 menimbulkan sensasi besar.  Pada tahun 1672 seorang Jerman A. Leo mengirim bingkisan hadiah berisi sabun kepada Lady von Schleinitz, yang didalamnya disertai uraian penjelasan rinci tentang cara memakai benda misterius tersebut.

Sabun Castile, seluruhnya dibuat dari minyak zaitun, dibuat di Kerajaan Castilia (sekarang bagian dari Spanyol) kira-kira tahun 1616.  Abu alkali yang disebut barilla dari pohon semak  Salsolas,  direbus bersama minyak zaitun sebagai pengganti lemak binatang.  Dengan menambahkan larutan pekat garam kedalamnya, sabunnya akan naik ke permukaan dan diambil, meninggalkan sisa soda api dan pencemar lain di dasar. Ini mungkin merupakan produk sabun keras pertama, yang semakin tua akan makin mengeras, tanpa berubah warna putihnya dan disebut jabon de Castila, yang menjadi sebuah nama generik

Orang Inggris baru membuat sabun dalam abad ke 12  di Bristol.  Catatan pada Bristol Company of Soapmakers untuk tahun 1562-1642 menunjukkan nama 180 orang yang terlibat dalam bisnis sabun.  Disebutkan pula jenis sabun bernama “Bristol Soap” yang berwarna hitam dan juga “Bristol Grey Soap” yang lebih keras, berwarna abu-abu yang diproduksi masal untuk dikirim ke London tahun 1523 dengan harga satu penny per pound (1/2 kg). Bisnis sabun begitu bagus; pada tahun 1622 Raja James memberikan hak monopoli kepada seorang pembuat sabun dengan membayar imbalan $100,000 setahun.

Di Perancis, selama Raja Louis XIV (1638-1715)  berkuasa, mandi merupakan keanehan, bukan kebiasaan. Diceritakan bahwa Raja Louis menghukum mati dengan pisau guillotin 3 pembuat sabun, karena sabun yang mereka produksi menimbulkan iritasi pada kulit sang Raja yang sensitif.  Di dorong rasa takut dan putus asa, 4 orang pembuat sabun lainnya berembug dan menciptakan cara untuk mencetak dan mematangkan sabun – perlu satu bulan untuk membuat satu batang sabun saja.  Mereka pun berhasil menyelamatkan leher mereka dari pisau guillotin, dan dunia juga memperoleh cara membuat sabun handmade. (sabun tuang, sabun proses dingin, sabun pedesaan, sabun yang telah dimatangkan/cured).  

Tulisan yang dikenal sebagai karya ilmuwan Arab, Jabir bin Hayyan berulangkai menyebut sabun sebagai zat pembersih.   Orang Arab membuat sabun dari minyak nabati atau minyak atsiri, misalnya minyak thymus.  Soda api (Al-Soda Al-Kawia) NaOH pun dipakai untuk pertama kalinya dan rumusnya tidak pernah berubah seperti sabun yang sekarang beredar di pasaran.  Sejak awal abad ke 7 sabun diproduksi di Nablus (Palestina), Kufa (Irak) dan Basara (Irak).  Sabun Arab diberi pewangi dan pewarna, ada yang padat keras, ada yang cair.  Mereka juga mempunyai sabun khusus untuk bercukur. Sabun diperdagangkan seharga 3 Dirhams (0,3 Dinar) per batang di tahun 981 M.

Pembuatan sabun di koloni Amerika pada awal abad ke 17 diawali dengan datangnya para pembuat sabun di atas kapal kedua dari Inggris yang berlabuh di Jamestown, Virginia.  Selama bertahun-tahun pembuatan sabun merupakan kegiatan rumahtangga belaka.  Lalu para pembuat sabun profesional mulai menampung sisa lemak rumahtangga yang mereka tukar dengan sabun.

Nicolas Leblanc seorang ahli kimia Perancis menemukan cara pembuatan soda api dari garam, yang lebih mudah dan cepat dan murah yang disebut proses Leblanc pada tahun 1852.  Namun cara ini menjadi usang dengan diketemukannya proses Solvay atau proses amonia oleh orang Belgia bernama Ernest Solvay, yang juga menggunakan garam dapur.  Proses Solvay mengurangi biaya pembuatan alkali serta meningkatkan volume dan mutu hasil soda yang dapat dipakai para pembuat sabun. 

Berbagai penemuan ilmiah ini, disertai dengan diketemukannya tenaga listrik untuk mengoperasikan pabrik, membuat industri sabun sebagai industri paling pesat di tahun 1850an.  Kemudahan memperoleh sabun juga mengubahnya dari barang mewah menjadi barang keperluan sehari-hari.  Dengan meluasnya penggunaan sabun dikembangkan pula sabun yang lebih lunak untuk mandi dan juga sabun untuk mesin pencuci yang dapat diperoleh konsumen pada pergantian abad itu. 

Dalam abad ke 19, sabun dikenai pajak tinggi sebagai barang mewah di beberapa negara. Ketika pajak yang tinggi dihilangkan, sabun pun menjadi terjangkau oleh rakyat biasa, dan standar kebersihan pun meningkat.  Inggris dan Perancis menghilangkan pajak sabun pada tahun 1852 sehingga sabun menjadi komoditas rumahtangga untuk kebersihan diri dan dan mencuci.

Kimiawi pembuatan sabun pada dasarnya tetap tak berubah sampai tahun 1916 ketika deterjen sintetik yang pertama dibuat di Jerman sebagai imbas akibat Perang Dunia 1 di mana lemak sulit diperoleh untuk membuat sabun.  Deterjen adalah zat pembersih bukan-sabun yang dibuat secara sintetis dari berbagai bahan.  Penemuan deterjen juga didorong oleh kebutuhan akan suatu zat pembersih yang, tidak seperti sabun, tidak akan bersenyawa dengan garam mineral di dalam air dan membentuk substansi yang tidak larut dalam air. 

Anda Tertarik dan Berminat?

•29 Desember 2008 • & Komentar

solusi5a21Alhamdulillah.  Insya Allah dengan menjenguk posting ini anda akan menjadi lebih tertarik dan berminat untuk mencoba dan memakai “Soapy Nature”.  Tidak susah kok – anda hanya perlu mengirim email kepada kami (soapynature@gmail.com) guna mengutarakan minat anda untuk mencoba/membeli “SoapyNature”.  Di bawah ini kami sajikan informasi tentang jenis “SoapyNature” yang telah tersedia beserta masing-masing harganya. Berapa harganya …? Harganya memang lebih tinggi dibanding sabun komersial yang umum dijual di toko, super market atau mini market atau di warung – yah memang beda kualitas kok (baca dulu komentar mereka yang telah memakainya).  Namun saya yakin harga “SoapyNature” masih lebih rendah dibanding dengan sabun bikinan tangan yang sejenis, yang juga telah ramai diproduksi dan dijual di berbagai Mal.  Mutunya?  Ya harus coba dulu baru tahu sendiri … Kalau saya mengatakan mutunya bagus ya memang sudah seharusnya … kan saya yang bikin …

Jenis/Varian % Minyak Zaitun Harga/biji Scrub/Bahan lain
1. Habatussauda 20-22% Rp.10.000 Serbuk halus habatussauda
2. GreenTea-Cinnamon 20-22% Rp.10.000 Serbuk halus Kayumanis
3. Aloe Vera / Lidah buaya 20-22% Rp.8.500
4 Papaya 20-22% Rp.8.500
5. Wortel – Kunyit 20-22% Rp.10.000 Serbuk halus kunyit
6. Pumpkin / Labu parang/kuning 20-22% Rp.8.500
7. Zaituna50-Susu-madu 50.00% Rp.12.000 Madu
8. Alpukat 20-22% Rp.8.500
9. Wortel 20-22% Rp.8.500
Untuk pembelian di atas 10 biji kami berikan diskon sebesar 10% sedangkan untuk pembelian di atas Rp.200.000 kami berikan diskon 15%.  Bagi anda yang ingin membeli untuk dijual kembali kami harapkan diskon ini sudah memadai –  berdasarkan pengalaman, beberapa teman bisa menjual SoapyNature dengan harga jauh lebih tinggi daripada harga dari kami.  Yah, memang pada umumnya para penjual malah lebih tinggi untungnya daripada produsen.
Tentu saja untuk mengirimkan pesanan anda kami harus mengenakan biaya penanganan dan pengiriman.  Biasanya pesanan kami kirimkan melalui Pos Kilat Khusus (atau Paket Pos Kilat Khusus),  Biayanya tergantung berat kiriman/pesanan – tetapi biasanya berkisar antara Rp.10.000-15.000 untuk wilayah DKI.  Untuk luar DKI, minimal Rp.15.000.  Insya Allah pesanan anda akan sampai ke alamat anda dalam waktu 3-4 hari sesudah bukti transfer kami terima kopi atau nomernya.
Bila anda ingin pesan dan barangnya segera dikirim, anda bisa langsung hitung sendiri harganya, ditambah ongkos kirim lalu transfer ke Rekening BCA No. 2871188841 a/n Iskandar dan sms kan nomer bukti transfernya ke 0811914065.
Nah, kami tunggu email dan pesanan anda semua.
Salam,
HalalSoapMaker

Sabun dalam bahasa dunia

•24 November 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Bahasa

Istilah

1

Basque

xaboi/jaboi

2

Belanda

zeep

3

Catalan

sabó

4

Ceko

mýdlo

5

Denmark/Danish

sæbe

6

Estonia

seep

7

Finlandia

saippua

8

Hungaria

csúszópénz / kenés

9

Hungaria

szappan / vesztegetési pénz

10

Inggris

soap

11

Italia

sapone

12

Jerman

einseifen / Seife

13

Kroasia

sapun

14

Latvia

ziepes

15

Norwegia

såpe / såpe inn

16

Perancis

savon

17

Polandia

mydło

18

Portugis

sabão

19

Romania

săpun

20

Serbia

sapun

21

Slovakia

mydlo

22

Slovenia

milo

23

Spanyol

jabón

24

Swahili

sabuni

25

Swedia

tvål

26

Turki

sabun

SABUN – Riwayatmu duluuu…..(1)

•19 Oktober 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar
SABUN – dari zaman pra-sejarah sampai abad pertengahan

Kalau kita mendengar kata “sabun” dalam benak kita terbayang benda padat yang biasanya berbentuk batangan atau bentuk lain, atau cairan agak kental, atau bisa juga pasta atau krim, yang bila dicampur air dan digosok-gosok akan menghasilkan busa yang mampu membersihkan benda atau tubuh kita dari kotoran yang menempel. Benda ini dalam berbagai bahasa asing disebut sebagai “zeep” (Belanda) ”soap” (Inggris), “savon” (Perancis), “sapone” (Itali), sabuni” (Swahili), ”sabun” (Turki), jabón” (Spanyol),   “Seife” (Jerman) dan lain sebagainya – untuk bahasa lain bisa dilihat di tabel terpisah di blog ini.       

Asal mula kebersihan pribadi dimulai dari sejak zaman pra-sejarah. Karena air mutlak perlu untuk kehidupan, manusia sejak dahulu kala bermukim dekat dengan air dan tahu tentang daya bersihnya – paling tidak, bahwa air bisa menghilangkan lumpur dari tangan mereka. Bahan mirip sabun yang ditemukan dalam bejana gerabah selama penggalian di situs Babylon kuno menunjukkan bahwa pembuatan sabun telah dikenal sejak 2800 SM. Ukiran pada bejana tersebut mengatakan bahwa lemak direbus bersama abu, yang merupakan metode pembuatan sabun, tetapi tak ada acuan tentang kegunaan “sabun” itu sendiri. Bahan semacam itu di kemudian hari dipakai sebagai bahan pembantu penata rambut.

Catatan menunjukkan bahwa bangsa Mesir kuno mandi berendam secara teratur. Papyrus Ebers, sebuah dokumen medis dari kira-2 1500 SM, menguraikan pencampuran minyak binatang dan nabati dengan garam alkali untuk membentuk bahan sejenis sabun yang digunakan mengobati penyakit dan juga untuk mencuci.   

Kira-kira pada zaman yang sama, Nabi Musa memberi bangsa Israel hukum yang rinci tentang kebersihan diri.  Beliau juga menghubungkan kebersihan dengan kesehatan dan kesucian menurut agama.  Dalam Kitab Injil disebutkan, bangsa Israel mengetahui bahwa mencampurkan
abu dengan minyak menghasilkan semacam jel untuk rambut. 
Sabun di negara barat bermula pada zaman Yunani kuno di pulau Lesbos.  Di tempat itu dilakukan pengorbanan binatang sebagai persembahan pada para Dewi.  Karena sesaji itu sering dikremasi, maka terjadi penumpukan abu dari kayu bakar (awal sumber senyawa alkali/ basa). Abu ini pun tercampur dengan lemak dari binatang yang dipersembahkan. Diceritakan bahwa ada aliran cairan kuning turun dari api pembakaran di kuil di atas bukit.  Para perempuan yang mencuci pakaian di sungai melihat bahwa pakaian mereka menjadi lebih bersih pada waktu air sungai berubah menjadi kekuningan.  Sappho, yang menuliskan puisi tentang zaman ini kemudian namanya diabadikan dengan pemberian istilah saponifikasi – nama reaksi kimia dalam pembuatan sabun. 
Namun sumber lain menyatakan bahwa nama atau istilah “sapo” berasal dari “Bukit Sapo” di
Italia di zaman Romawi kuno, meskipun ceritanya mirip dengan cerita di atas, yaitu tentang adanya lemak binatang persembahan yang bercampur abu mengalir turun ke tanah liat di tepian sungai Tiber. Para perempuan mendapatkan bahwa cucian mereka menjadi lebih bersih tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga. dengan menggunakan tanah liat ini untuk mencuci pakaiannya.  Bangsa Yunani kuno mandi karena alasan estetika tanpa memakai sabun. Tetapi mereka   membersihkan tubuh mereka dengan gumpalan tanah liat, pasir, batu apung dan abu, lalu melumuri badannya dengan minyak dan mengerik lepas minyak dan tanah tersebut dengan alat yang terbuat dari logam yang dinamakan “strigil”. Mereka juga memakai minyak dicampur abu.  Mencuci pakaian dilakukan di sungai tanpa sabun.

Bangsa Jerman dan Gaul kuno juga dikatakan menemukan suatu substansi yang dinamakan sabun, terbuat dari lemak lembu dan abu, yang mereka pakai untuk mencat rambut agar berwarna merah. 

Sejalan dengan majunya peradaban Romawi, cara mandi pun menjadi lebih maju pula.  Tempat mandi umum  Romawi pertama yang terkenal, yang airnya disalurkan melalui jaringan perpipaan/saluran, dibangun kira-kira pada 312 S.M.  Tempat mandinya mewah dan menjadi sangat populer.  Menjelang abad kedua Masehi, Galen tabib Yunani yang terkenal, menganjurkan sabun untuk pengobatan maupun alat pembersih.

Menurut Gaius atau lebih dikenal sebagai Pliny the Elder seorang punjangga dan filosof naturalis di abad 1 M, bangsa Phoenisia membuat sabun dari lemak kambing dan abu kayu pada 600 S.M dan terkadang menggunakannya  sebagai komoditas untuk barter dengan bangsa Gaul.   Kata “sabun” petama kali muncul di bahasa Eropa di dalam buku Pliny the Elder berjudul Historia Naturalis, yang menguraikan tentang pembuatan sabun dari lemak dan abu, namun penggunaan yang disebutkannya hanya sebagai jeli untuk rambut; dalam nada yang tidak setuju disebutkannya 

bahwa di antara bangsa Gaul dan Jerman, lebih banyak kaum lelaki yang menggunakannya daripada perempuan. 

Sabun dikenal luas di zaman kekaisaran Romawi; apakah bangsa Romawi belajar memakai dan membuatnya dari orang-orang dari Laut Tengah kuno atau dari bangsa Keltik, penduduk wilayah Britannia, tidaklah diketahui pasti.  Bangsa Romawi kuno di abad 1 M menggunakan air seni (urine) untuk membuat substansi seperti sabun.  Urine mengandung ammonium karbonat yang bereaksi dengan minyak dan lemak dari wol menghasilkan saponifikasi parsial.  Orang-orang yang disebut sebagai fullones mondar mandir di jalanan kota mengumpulkan urine untyuk dijual ke para pembuat sabun.

Bangsa Keltik, yang membuat sabun dari lemak binatang dan abu tanaman menamakan hasil produksinya sebagai saipo, yang menjadi asal kata soap.  Peranan penting sabun untuk mencuci dan membersihkan tampaknya belum diketahui sampai abad ke 2 M; Galen, tabib bangsa Yunani menyebutnya  sebagai obat dan alat pembersih tubuh.  Pada zaman dahulu sabun dipakai sebagai obat medis.

Kejatuhan kekaisaran Roma tahun 467 M menurunkan pula kebiasaan mandi rakyatnya, sampai-sampai sebagian besar benua Eropa merasakan akibat dari kejorokan mereka terhadap kesehatan masyarakat.  Lingkungan hidup dan kebersihan diri yang jorok ini mempunyai andil besar pada terjadi wabah besar penyakit pes di Abad Pertengahan, yang disebut sebagai Black Death di abad ke 14. Diperkirakan 30%-50% penduduk Eropa meninggal oleh wabah tersebut. Kebersihan diri dan kebiasaan mandi baru kembali ke sebagian besar Eropa pada abad ke 17.  

Namun, masih ada bangsa pada abad pertengahan yang tetap mementingkan kebersihan diri.  Mandi setiap hari sudah umum dilakukan di Jepang pada Abad Pertengahan.  Juga di Eslandia, kolam yang dihangatkan dengan air dari sumber air panas merupakan tempat ngerumpi yang beken setiap Sabtu malam.

Pembuatan sabun menjadi kerajinan yang mapan di Eropa pada abad ke 7.  Berbagai perkumpulan para pembuat sabun menjaga rapat rahasia mereka.  Minyak atau lemak binatang dan nabati digunakan bersama dengan abu tumbuh-tumbuhan, dengan diberi pewangi. Secara bertahap berbagai jenis sabun diciptakan untuk bercukur dan keramas, mandi serta mencuci.  

 

Minyak Zaitun salah satu bahan dasar SoapyNature

•11 Oktober 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Minyak zaitun dihasilkan dari buah zaitun atau olive (Olea europaea; familia Oleaceae), yang merupakan pohon kebun tradisional dari Dataran Mediterania. Pohon zaitun liar berasal dari Asia Kecil yang sekarang menjadi negara Turki. Minyak zaitun umum dipakai untuk memasak,kosmetik, farmasi dan sabun dan bahan bakar lampu minyak tradisional. Pohon zaitun dan produksi minyaknya dapat dirunut kembali ke zaman negara-kota kuno Ebla (2600–2240 SM), yang terletak di pinggiran kota Aleppo di Siria. Di sini beberapa lusin naskah kuno bertahun 2400 SM menggambarkan kerajaan para raja dan ratu di zaman itu. Semuanya berada dalam perpustakaan lempengan tanah liat yang terawetkan dengan baik karena terpanggang oleh api yang menghancurkan istana.

Dinasti Mesir kuno sebelum 2000 SM mengimpor minyak zaitun dari pulau Crete, Siria dan Kanaan, dan minyak merupakan komoditas perdagangan dan kekayaan penting. Sisa-sisa minyak zaitun ditemukan dalam bejana berumur lebih dari 4000 tahun di dalam sebuah makam di pulau Naxo di Laut Aegea.Sinuhe, yang dibuang dari Mesir dan tinggal di Kanaan Utara kira-kira tahun 1960 SM, menulis tentang banyaknya pohon zaitun. Sampai tahun 1500 SM, daerah pesisir timur Laut Tengah paling padat tanaman zaitunnya. Pohon zaitun jelas telah dibudidayakan pada periode budaya Mino Akhir (1500 SM) di zaman perunggu di pulau Kreta dan mungkin bahkan sejak zaman budaya Mino Awal. Budidaya pohon zaitun menyebar ke kota Iberia dan Etruska jauh sebelum abad 8 SM melalui perdagangan dengan bangsa Phoenisia dan Kartago, lalu menyebar ke Gaul Selatan dibawa oleh suku Keltik selama abad 7 SM.

<!–[if gte vml 1]>

Alat pres minyak zaitun dari Pompei – 79 SM

<![endif]–>Catatan pertama tentang pembuatan minyak diketahui dari Kitab Injil bahasa Ibrani, yang berlangsung selama Eksodus dari Mesir abad 13 SM. Dalam masa ini minyak diperoleh dari buah yang diperas dengan tangan dan disimpan di bejana khusus yang dijaga para pendeta. Sebuah pabrik minyak untuk penggunaan di luar keagamaan digunakan di zaman Kerajaan Israel 1000 SM. Lebih dari 100 “mesin” pemeras minyak zaitun diketemukan di Tel Migne (Ekron), di mana bangsa Philistin yang disebut dalam kitab Injil juga memproduksi minyak. Mesin peras ini diperkirakan telah menghasilkan antara 1000-3000 ton minyak zaitun setiap musimnya. Cara paling tradisional untuk membuat minyak zaitun adalah dengan menggiling buah zaitun. Buah zaitun hijau menghasilkan minyak yang pahit, dan kalau terlalu masak hasil minyaknya agak tengik sehingga harus sangat hati-hati dalam memastikan bahwa buah zaitun benar-benar masak dan pas. Mula-mula buah zaitun digiling memaki batu penggiling. Bubur buah zaitun biasanya dibiarkan berada di bawah batu penggiling 30–40 menit. Minyak yang diambil pada tahap ini disebuat sebagai virgin oil. Sesudah digiling, bubur zaitun diproses lebih lanjut dengan diipress untuk memisahkan minyak dari bubur. Langkah kedua ini menghasilkan minyak zaitun dengan kualitas lebih rendah.Minyak zaitun tersusun terutama dari asam oleat dan asam palmitat serta asam lemak lain, disertai sejumlah kecil squalene (sampai 0.7%) dan sterol (kira-kira 0.2% phytosterol dan tocosterol). Komposisinya beragam menurut kultivar, daerah, ketinggian lahan, waktu panen dan proses ekstraksinya.

Minyak zaitun mengandung sekelompok produk alami yang memiliki sifat anti-oksidan kuat, yang memberi rasa pahit dan bau menyengat pada minyak zaitun extra-virgin yang tidak diproses. Mereka adalah ester dari tyrosol dan hidrotyrosol termasuk oleocanthal dan oleoropein.

Bukti dari penelitian epidemiologis menunjukkan bahwa sebagian besar dari lemak tak jenuh tunggal dalam diet terkait dengan penurunan risiko penyakit pembuluh darah koroner jantung. Ini penting karena minyak zaitun sangat kaya akan asam lemak tak jenuh tunggal, asam oleat. Di Amerika, produsen minyak zaitun diijinkan menempelkan label yang berbunyi:

“Bukti ilmiah terbatas dan tidak konklusif menunjukkan bahwa mengkonsumsi kira-kira dua sendok makan (23 gram) minyak zaitun tiap hari mungkin menurunkan risiko penyakit pembuluh darah koroner jantung, karena adanya lemak tak jenuh tunggal dalam minyak zaitun. Untuk memperoleh kemungkinan manfaat ini, minyak zaitun harus menggantikan jumlah yang sama dari lemak jenuh, dan tidak menambah jumlah kalori yang anda konsumsi dalam sehari”

Manfaat lain minyak zaitun kelihatannya adalah sifatnya yang menghilangkan lemak Omega-6 namun tidak mempengaruhi lemak Omega-3. Dengan demikian minyak zaitun membantu menciptakan keseimbangan yang sehat antara lemak Omega 6 dan Omega-3.

Di samping manfaat kesehatan di dalam tubuh, pemakaian minyak zaitun pada kulit sangat populer di kalangan penggemar pengobatan alami. Minyak Zaitun Extra Virgin adalah yang terbaik untuk melembabkan kulit, terutama bila dipakai dalam ramuan yang disebut Oil Cleansing Method (OCM) . OCM adalah sebuah cara membersihkan kulit wajah dengan menggunakan campuran Minyak Zaitun Extra Virgin, kastroli (atau minyak lain yang cocok) dan serangkaian berbagai jenis minyak atsiri. Minyak zaitun juga dipakai mengurangi penimbunan kotoran telinga.

Jeanne Louise Calment, perempuan Perancis (meninggal di usia 122 tahun) dan Mariam Amash perempuan Arab Palestina (masih hidup di Israel berusia 120 tahun), yang tercatat sebagai manusia tertua di dunia pada zamannya, mengaku bahwa meminum minyak zaitun tiap hari merupakan rahasia umur panjang mereka. Jeanne Calment bahkan juga selalu mengoles kulit dan wajahnya dengan minyak zaitun setiap hari.

Salah satu obat terbaik bagi bintul-bintul merah di kulit adalah mengoleskan minyak zaitun pada bagian yang terkena bintul-bintul. Minyak zaitun akan meresap ke dalam kulit dan menyembuhkan bintul-bintul tersebut.

Diolah dan diterjemahkan dari berbagai sumber di website.

 

Komentar Para Pemakai SoapyNature

•10 Oktober 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

<!–[if gte vml 1]>

<![endif]–>
KOMENTAR PARA PEMAKAI SOAPY NATURE

“... isteri saya sangat senang menggunakan yang hitam habatussauda, disayang-sayang sehingga hanya digunakan untuk muka. …untuk mandi keseluruhan menggunakan yang lain dan tidak ada keluhan. Saya sendiri menggunakan yang habbatussauda untuk mandi keseluruhan. Cocok untuk saya justru karena tidak terlalu harum…” (dari Pembeli lebih dari 100 biji SoapyNature semua jenis)


“… alhamdulillah enak dipakai di badan, isteri saya juga berkomentar demikian...” (Pemakai di Bandung)

“…Wah, anak saya seneng banget sama yang aroma kayu manis ‘kaya brownies katanya’ dan dipakainya enak sekali untuk muka …” (seorang ibu di Jakarta)

…istri saya hanya memakainya untuk muka … sayang, katanya, karena hanya sedikit … tidak bikin kulit terasa kaku… (seorang Bapak di Jkt)

… Saya suka yang hitam, scrub-nya enak dikulit dan keluarga saya juga suka jenis yang lain … saya mau pesan 30 biji semua jenis untuk saya bagikan keluarga saya di Amerika…” (seorang pria bule di Jakarta)


“…SoapyNature lebih enak dipakainya daripada sabun hotel oleh-oleh dari luar negeri yang saya terima; akan lebih baik kalau tepinya tidak ‘tajam’…” (seorang Ibu di Garut)


Wah… sabunnya OK banget … kalau habis dari mandi di pantai, memakai SoapyNature rasanya lebih bersih…” (seorang Ibu sepulang dari berlibur di pantai di Bali)

“…Ternyata sabun bikinan tangan ini memang bisa membuat muka saya terasa lebih halus dan kencang kulitnya …” (seorang Ibu Rumah tangga di daerah Taman Mini, Jakarta)

“… jangan-jangan harganya keliru ini, sabun sekualitas ini biasanya harganya jauh lebih mahal lho,…” (Seorang Ibu Muda Karyawati Biro Perjalanan di Solo)


“…memang kulit jadi terasa lebih halus dan pakai sabunnya busanya terasa lembut … tetapi harganya mungkin terlalu tinggi kalau untuk orang Yogja” (seorang Ibu dosen UGM di Yogja)


“…Saya suka aroma habbatussaudah yg sangat terasa …. Busanya banyak, tidak seperti yg saya khawatirkan sebelumnya. Minyak zaitunnya sangat terasa sekali. Yang saya sangat senang, baru kali ini saya bisa menggunakan sabun utk muka saya, karena sejak saya SMP sampai sebelum pakai Soapy Nature, saya tidak pernah memakai sabun utk muka, hal ini disebabkan apabila saya pakai akan terasa kering dan kasar (sdh saya coba berbagai macam merk dan jenis sabun termasuk yg disebut sabun kecantikan). Tetapi produk SoapyNature saya rasakan tidak memberi efek kasar atau kering / netral secara visual, mudah2an memberi efek yg bagus utk jangka panjang. Sabun saya pakai sampai benar2 habis, meskipun kondisinya sdh hancur tapi busa masih ada.” (Abdurrahman Shiyam, Jakarta Timur)


“… secara penampilan gak menarik …Kenyamanan di kulit, sangat nyaman, lembut dan kulit menjadi agak lembab ….Aroma, karena kebetulan saya menyukai bau2an yg exotic, ya saya suka aja…” (Ibu Salma Alwi di Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta)

“… seorang ibu di Cinere mengatakan adiknya yang tinggal di Kalimantan menderita semacam penyakit yang membuatnya sama sekali tidak bisa memakai sabun.  Setelah mencoba memakai SoapyNature Habatussauda, ternyata cocok.  Untuk persediaan maka ibu itu membeli SoapyNature Habattussauda sampai 90 biji.”

“… saya memberi seorang teman kerja separo biji SoapyNature Habattussauda karena hanya punya satu biji.  Ternyata sabun itu cocok untuk mukanya yang jerawatan, sehingga menjadi lebih halus.  Jadinya dia minta dibelikan SoapyNature Habbatussauda lagi.” (Ibu Ika, bagian Pemasaran Jamu Jago di Jakarta Timur) 

   “… ya saya suka SoapyNature Cinnamon karena baunya khas. Dikulit rasanya enak, tidak membuat kulit saya kering …” (Ms Carol Davis, San Diego, California, USA)

“I have only so far used the aloe flavor and I LOVED it.  It is very light and it lathers very well (lots of good soapy suds), without leaving a filmy residue. I like that it doesn’t have too strong a scent as well…”(Saya baru mencoba yang lidah buaya and saya SUKA.  Sangat lembut dan busanya banyak, tanpa meninggalkan sisa lapisan di kulit.  Saya juga senang aromanya tidak terlalu menyengat )  - Ms Katherine Selchau, San Diego, California, USA

“… anak gadis saya yang sekolah di Singapura sejak kecil harus selalu memakai krim pelembab sesudah mandi pakai sabun … sekarang sesudah memakai SoapyNature dia tidak memerlukan krim itu lagi …” (seorang ibu di Jakarta – pembeli 20 biji SoapyNature berbagai jenis)

“I like the lather and they leave the skin feeling moisturized yet clean… (Saya senang busanya, mereka membuat kulit terasa lembab tetapi bersih…)” – Ms Amy Hansen, San Diego, California, USA.